Ilustrasi anak belajar di sekolah. Foto: MAYA LAB/ShutterstockSekolah-sekolah di Swedia kembali ke metode pembelajaran yang lebih tradisional, seperti membaca dari buku fisik, setelah melihat standar membaca para muridnya menurun saat iPad dan laptop digunakan.Dikutip dari BBC International, saat ini, fokus pendidikan usia dini di negara tersebut lebih tertuju pada penggunaan buku teks cetak, tulisan tangan, dan pengurangan waktu di depan layar. Para ahli mengatakan bahwa tingkat kemampuan membaca semakin membaik karena hal ini.Beberapa guru mengatakan, para siswa kini meminta lebih banyak buku dan pembelajaran berbasis kertas di sekolah. Karena menurut mereka, metode ini memungkinkan pembelajaran yang lebih cepat dan daya ingat yang lebih baik dibandingkan dengan menggunakan laptop.Akan tetapi, kebijakan ini hadir bukan sebagai larangan total terhadap teknologi di ruang kelas dan perangkat digital masih digunakan.Pemerintah Gelontorkan Jutaan Euro untuk Hadirkan Kembali Buku CetakPemerintah Swedia sendiri sampai menghabiskan jutaan dolar untuk membeli buku teks fisik dan buku perpustakaan. Dikutip dari laman Futura Sciences, sebesar 60 juta euro dialokasikan pada tahun 2023, dengan tambahan 44 juta euro untuk tahun 2024 dan 2025.Ilustrasi anak belajar di sekolah. Foto: Tyler Olson/ShutterstockTujuannya adalah untuk memastikan bahwa setiap siswa memiliki buku teks cetak untuk setiap mata pelajaran. Para pembuat kebijakan mencatat bahwa buku fisik mendorong keterlibatan yang lebih dalam dengan materi pembelajaran dan membantu membatasi paparan layar yang tidak perlu selama jam sekolah.Perlu diketahui, selama tahun 2000-an dan 2010-an, buku-buku dikesampingkan di ruang kelas sekolah-sekolah di Swedia dan digantikan dengan laptop dan iPad. Idenya adalah untuk mempersiapkan siswa menghadapi kehidupan di dunia digital.Namun tampaknya hal itu malah menjadi bumerang. Mengapa?Standar membaca di Swedia, yang termasuk yang terbaik di Eropa pada tahun 2000, mulai menurun. Pada tahun 2012, setelah bertahun-tahun memburuk, skor PISA negara tersebut —sebuah tes global yang mengukur kemampuan membaca, matematika, dan sains di kalangan anak berusia 15 tahun— bahkan mencapai titik terendah.Sekarang, atas permintaan banyak orang, buku-buku cetak mulai kembali ke ruang kelas dan kemampuan membaca perlahan kembali membaik.Pemerintah negara bagian telah meluncurkan tantangan membaca nasional untuk anak-anak berusia 10 tahun, dan kelas yang membaca buku terbanyak akan memenangkan hadiah.