“I'm living the dream, I'm getting the cream, I'm living on theme, I'm doing my thing; It's Marty Supreme!”Grameds, kamu mungkin sudah mendengar gembar-gembor tentang Marty Supreme sejak bulan-bulan kemarin. Sebuah film tentang seorang pemain tenis meja ambisius yang dibintangi oleh Timothee Chalamet, disutradarai Josh Safdie, dan berhasil mengantongi sembilan nominasi penghargaan di ajang Oscar tahun kemarin. 🏓🏆Ditambah dengan berbagai pujian yang datang dari para kritikus, maka wajar saja kalau film ini sempat jadi perbincangan yang bikin berisik di media sosial. Nah, kabar baiknya, film ini dikonfirmasi masuk ke bioskop Tanah Air dan akan memulai tanggal penayangannya segera.Yup, sebelum kamu nonton filmnya, mari kita bahas dulu sekilas tentang filmnya! 🏃♂️Sinopsis Marty Supreme“Well, I live with the confidence that I believe in myself, the money will follow…”Marty Supreme mengajakmu untuk mengikuti perjalanan Marty Mauser, seorang pemuda New York era 1950-an yang bercita-cita menjadi legenda tenis meja dunia. Ia tumbuh di lingkungan yang kerap meragukan mimpinya. Situasi tersebut justru memupuk tekadnya untuk membuktikan diri melalui prestasi.Bagi Marty, tenis meja adalah jalan untuk membangun reputasi dan harga diri. Ia berlatih keras dan berusaha menembus kompetisi yang lebih besar. Setiap pertandingan menjadi momentum untuk menunjukkan kapasitasnya di hadapan publik yang belum sepenuhnya percaya.Perjalanannya diwarnai tekanan dan keraguan. Ia harus berhadapan dengan lawan tangguh serta ekspektasi yang terus meningkat. Seberapa jauh ia bisa melangkah demi mempertahankan mimpinya itu?Saat Ambisi Berbuntut ObsesiKepercayaan diri Marty membawanya meraih sejumlah kemenangan dan kesempatan tampil di turnamen bergengsi seperti British Open. Namun, kekalahan di laga penting mengguncang fondasi mentalnya. Dari titik itu, dorongan untuk menang berkembang menjadi obsesi untuk membalas kegagalan.Tekadnya untuk bangkit membuat Marty mencari berbagai cara agar tetap berada di jalur kompetisi. Ia terlibat dalam pertandingan eksibisi dan ruang-ruang permainan yang lebih keras. Keputusan yang diambil sering kali berada di wilayah abu-abu dan memicu konsekuensi baru.Perjalanan menuju pembuktian berikutnya menuntut biaya besar dan energi yang tidak sedikit. Tekanan finansial serta tuntutan reputasi mendorongnya mengambil langkah yang berisiko. Di sinilah karakter Marty diuji oleh pilihan-pilihan yang ia buat sendiri.Potret Anti-Hero yang KompleksMarty Supreme GIFfrom Marty Supreme GIFs Di tangan Josh Safdie, Marty digambarkan sebagai figur dengan banyak lapisan. Ia cerdas, percaya diri, dan memiliki daya tarik yang kuat. Di sisi lain, ia juga impulsif dan kerap memanipulasi situasi demi keuntungan pribadi.Lingkungan di sekitarnya sering kali terseret oleh keputusan yang ia ambil. Ia bergerak cepat dalam membaca peluang, namun tidak selalu mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain. Dinamika ini membentuk konflik yang terasa intens sepanjang cerita.Hubungannya dengan seorang aktris terkenal menambah dimensi emosional dalam film. Interaksi mereka memperlihatkan tarik menarik antara ambisi pribadi dan kebutuhan akan kedekatan. Selain itu, hubungan keduanya turut mengekspos sisi rapuh Marty di balik citra percaya dirinya.Baca juga: Kokuho: Ambisi, Warisan, dan Kerasnya Dunia KabukiTerinspirasi dari Sosok Nyatasource: NPR (https://www.npr.org/)Karakter Marty Mauser terinspirasi dari Marty Reisman, pemain tenis meja Amerika yang dikenal pada pertengahan abad ke-20. Reisman memiliki gaya bermain bertahan yang khas dan kepribadian yang mencolok. Ia menjadi salah satu figur penting dalam sejarah tenis meja Amerika Serikat.Dalam sejarahnya, Reisman memang pernah merasakan pasang surut karier, termasuk bermain di berbagai ajang eksibisi demi mempertahankan popularitas dan penghasilan. Ia juga dikenal berani tampil di luar arus utama dan tidak ragu menabrak pakem konvensional dunia olahraga saat itu.Meski film ini mengambil inspirasi dari sosok nyata, kisah Marty Supreme tetap merupakan interpretasi dramatik. Beberapa elemen cerita dikembangkan untuk kebutuhan sinematik, sehingga tidak sepenuhnya merepresentasikan perjalanan hidup Marty Reisman secara literal.Kisah Lain yang Tak Kalah Ambisius!Pengejaran Marty Mauser akan passion-nya bisa saja ikut membakar gairah yang ada di dalam dirimu. Nah, kalau kamu butuh bahan bakar lebih, bisa juga menambah referensinya melalui kisah dalam buku-buku di bawah ini:1. Gadis Minimarket (Convenience Store Woman) – Murata SayakaTelusuri Kisahnya Di Sini!Novel Gadis Minimarket atau Convenience Store Woman adalah sebuah novel yang ditulis oleh Murata Sayaka. Novel ini menceritakan tentang Keiko Furukara, seorang perempuan yang bekerja sebagai pegawai di minimarket. Keiko digambarkan sebagai seseorang yang pekerja keras. Hal ini disinyalir sebagai sebuah sindiran terhadap stereotip workaholic di Jepang.Hidup Keiko hanya berputar di sekitar pekerjaannya saja. Ia terus-menerus memikirkannya, bahkan ketika ia tidak berada di sana. Melalui kisah Keiko, Murata Sayaka menyoroti standar kebahagiaan yang sering dipaksakan masyarakat. Keiko mungkin dianggap berbeda, tetapi ia memiliki definisi bahagianya sendiri dan mampu menjalani hidup dengan pilihannya. Novel ini menunjukkan bahwa kepuasan hidup tidak selalu harus mengikuti ekspektasi umum. 2. Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa – Zaky YamaniTelusuri Kisahnya Di Sini!Samiam Nogueira adalah pedagang rempah dari Lisboa yang hidupnya berubah setelah menemukan peta Orang Jawa dan petunjuk tentang ayah kandungnya. Ia meninggalkan kenyamanan untuk memulai perjalanan jauh, sementara di negaranya sendiri muncul organisasi pemberontak bernama Porto de Graal. Tanpa disangka, orang-orang terdekatnya terlibat dalam gerakan tersebut dan menyeret Samiam ke dalam misi berbahaya.Perjalanan Samiam bukan hanya soal mencari ayah, tetapi juga tentang memahami dirinya di tengah konflik politik dan dilema moral. Novel ini memadukan sejarah dan petualangan dengan pertanyaan tentang identitas, pilihan, dan konsekuensi dari setiap keputusan. 3. What I Talk About When I Talk About Running – Haruki MurakamiTelusuri Kisahnya Di Sini!Tak lama setelah menjalani hidup sebagai penulis novel, Murakami memutuskan untuk berlari. Saat itu, usianya tidak lagi muda, tetapi hasratnya begitu berapi-api. Lari adalah jalan untuk menenangkan pikirannya yang sangat berisik. Dengan berlari pula, ia bisa mengelola segala sakit dan kekecewaan sehingga menjadi lebih kuat. Terlebih lagi, lari menyadarkannya bahwa dia adalah manusia yang lemah belaka.What I Talk About When I Talk About Running adalah sebuah memoar yang ditulis saat Murakami menjalani maraton demi maraton. Dalam karya yang kaya, intim, dan jenaka ini, Murakami tak hanya membagikan kepada pembaca bagaimana mengasah fokus dan keuletan, tetapi juga kontemplasinya terkait makna penderitaan dan hidup itu sendiri 4. Medan Medan – Muram BatuTelusuri Kisahnya Di Sini!Laung mengambil keputusan berani dengan mendirikan koran baru di Medan saat media daring berkembang pesat. Ia merancang konsep berbeda, termasuk terbit sore dan menggunakan dialek lokal. Bersama rekan-rekan lama serta tim yang tidak biasa, ia membangun Medan Raya dari awal dengan keyakinan pada visinya.Di tengah persaingan industri media dan tekanan politik, perjuangan mereka tidak mudah. Novel ini menggambarkan dinamika dunia pers, mulai dari idealisme, strategi bisnis, hingga tantangan mempertahankan media di tengah perubahan zaman.Apakah Medan Raya berhasil mengarungi medan pertempurannya? Atau koran ini justru akan kalah oleh arus perkembangan zaman dan intrik politik yang merajalela? 5. The Martyr – Choo Jong Nam“Alasan kebenaran berada di tempat yang tidak terlihat oleh mata, adalah karena kebenaran itu tidak ingin memperlihatkan wujudnya.”Telusuri Kisahnya Di Sini!Sebuah sekte sesat menghebohkan Korea Selatan dengan ramalan kiamat pada Oktober 1992. Kim Ki-joon, wartawan yang hidupnya diliputi masalah pribadi, mengetahui istrinya terlibat dalam sekte tersebut. Ia pun menyelidiki kelompok itu dan bertemu Lee Seon-min, seorang anak perempuan yang mengaku dapat melihat masa depan.Semakin dalam penyelidikannya, Ki-joon menemukan dugaan skandal dan penggelapan dana di dalam sekte. Dengan waktu yang terbatas sebelum tanggal yang diramalkan, ia berusaha mengungkap kebenaran yang tersembunyi. Novel ini memadukan ketegangan, misteri, dan pertanyaan tentang iman serta manipulasi. Pada akhirnya,Marty Supreme bukan hanya tentang tenis meja. Film ini berbicara tentang ambisi, pengakuan, dan risiko yang menyertai mimpi besar. Dari pertandingan pertama hingga adegan terakhir, penonton diajak masuk ke dunia kompetitif yang keras, baik di atas meja maupun di luar arena.Melihat perjalanan Marty Mauser bisa menjadi pengingat bahwa passion membutuhkan keberanian dan konsistensi. Kesempatan sering datang kepada mereka yang berani mengambil langkah, meski hasilnya tidak selalu pasti.So, Grameds, kalau kamu sudah kepalang penasaran sama film ini, Marty Supreme bisa kamu saksikan di bioskop mulai 25 Februari 2026 ini! Baca juga: Valentine Tanpa Pasangan? Belajar 'Legowo' dari Wuthering Heights Tanpa Jadi Toxic!"✨Oh iya, jangan lupa cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna! ⤵Temukan Semua Promo Spesial di Sini!