Anak rentan bunuh diri karena sulit mengelola emosi: Ada terapi khusus untuk meredamnya

Wait 5 sec.

PERINGATAN: Artikel ini memuat konten yang berkaitan dengan bunuh diri, melukai diri sendiri, dan kekerasan terhadap orang lain.● Jumlah kasus bunuh diri anak di Indonesia tertinggi se-Asia Tenggara selama 2023 - 2025.● Kesulitan mengelola emosi menyebabkan kaum muda rentan mengalami masalah mental hingga berujung bunuh diri.● Mengajarkan terapi perilaku dialektik (DBT) di sekolah berpotensi melatih anak mengelola emosi sejak dini. Komisi Perlindungan Anak (KPAI) mencatat empat kasus bunuh diri anak di Indonesia pada awal 2026. Ini menambah jumlah kasus bunuh diri anak di Indonesia—dengan 116 kasus sepanjang 2023-2025—sekaligus yang tertinggi se-Asia Tenggara. Beragam faktor jadi pemicunya, mulai dari perundungan, persoalan pengasuhan, tekanan ekonomi, pengaruh gim daring, masalah asmara, hingga depresi. Para peneliti mengungkapkan bahwa anak dan remaja rentan mengalami masalah mental hingga berujung bunuh diri karena kesulitan mengelola emosi (disregulasi emosi). Kondisi ini membuat kaum muda kesulitan mengenali, menoleransi, serta mengekspresikan emosi intens tanpa meledak, menarik diri, ataupun menyakiti diri sendiri. Untuk membantu mereka mengelola emosi, kaum muda (terutama di bawah usia 18 tahun) perlu mendapatkan pendidikan psikologis sejak dini seperti dialectical behavior therapy (terapi perilaku dialektik/DBT) dalam sistem pengajaran dan kurikulum sekolah di Indonesia. Terapi ini biasa digunakan untuk menangani kasus gangguan mental yang disertai kesulitan mengontrol emosi.Mengenal terapi perilaku dialektikTerapi perilaku dialektik (DBT) pertama kali diperkenalkan oleh akademisi sekaligus psikolog Marsha Linehan pada 1991 sebagai terapi untuk individu dengan risiko bunuh diri tinggi. Baca juga: Bunuh diri remaja bukti kegagalan sistem pendidikan, politik, dan lingkungan sosial Keunggulan DBT terletak pada latihan keterampilannya yang tidak hanya mengajarkan anak untuk “tenang”, tetapi juga membiasakan mereka untuk:Berfokus pada apa yang terjadi saat ini, bukan masa lalu atau masa depan (mindfulness).Berpikir jernih saat menghadapi situasi pemicu stres, tanpa melakukan perilaku berbahaya (distress tolerance).Mengenali dan mengelola emosi dalam jangka panjang agar tidak mudah meledak (emotion regulation).Menetapkan batasan diri dan menyelesaikan konflik, tanpa merusak hubungan dengan orang lain (interpersonal effectiveness).Pendekatan DBT membuat konsep mengelola emosi menjadi lebih konkret, terstruktur, dan siap dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Sebanyak 15 uji terkendali dan 20 uji acak terkendali selama periode 2013-2019 yang dihimpun Behavioral Tech Institute, Amerika Serikat menunjukkan DBT terbukti menurunkan percobaan bunuh diri, rawat inap, serta perilaku menyakiti diri secara signifikan pada populasi berisiko. Di antaranya, orang dengan gangguan kepribadian ambang (borderline personality disorder), depresi resisten terapi, gangguan makan, gangguan stres pascatrauma (PTSD), hingga gangguan bipolar.Pada 2019, penelitian mengenai pelatihan DBT berbasis sekolah bernama “DBT STEPS-A” yang dikembangkan Mazza menunjukkan bahwa pendekatan ini berhasil meningkatkan kemampuan mengelola emosi dan mengurangi perilaku menyakiti diri pada siswa. Salah satu evaluasinya di Cork, Irlandia, melibatkan 479 siswa usia 15–16 tahun. Setelah mengikuti program, jumlah siswa yang masuk kategori berisiko mengalami masalah emosional klinis menurun dari 37,8% menjadi 26,6%—setara dengan 11 dari 100 siswa keluar dari kategori risiko. Mungkinkah diterapkan di sekolah Indonesia?Untuk level sekolah, DBT paling realistis diposisikan sebagai kurikulum keterampilan emosi yang bersifat universal untuk seluruh siswa. Artinya, DBT diposisikan sebagai pembelajaran human skils. Fokusnya lebih kepada literasi emosi, keterampilan sosial, serta protokol keselamatan sekolah—bukan sebagai layanan terapi klinis. Dalam hal ini, perlu ada mekanisme pelatihan berjenjang agar tidak membebankan guru sebagai konselor. Misalnya, guru pendidikan kesehatan & karakter berperan mengajar keterampilan mengelola emosi. Lalu, guru bimbingan konseling (BK) berfungsi sebagai koordinator deteksi dini kesehatan jiwa siswa. Jika ada siswa yang punya tanda-tanda masalah mental lebih serius, sekolah perlu memfasilitasi siswa dalam memberikan rujukan ke konselor atau psikolog. Baca juga: Negara minta guru jadi konselor: Tak adil bagi guru, tak aman buat siswa Sejumlah evaluasi program DBT STEPS-A menunjukkan bahwa guru dapat dilatih untuk mengajarkan keterampilan DBT secara universal di sekolah. Studi tahun 2022 soal penerapannya melaporkan bahwa pendekatan ini dinilai layak serta dapat diterima di lingkungan pendidikan. Meski begitu, penerapan DBT di sekolah tetap memerlukan dukungan berkelanjutan dari konselor atau psikolog. Harapannya, guru bisa percaya diri menerapkan keterampilan di luar jam kelas dan pada konteks sosial siswa yang beragam.Cara menerapkan DBT di sekolahTransfer ilmu DBT dari tenaga kesehatan mental ke sekolah umumnya berjalan melalui model train–teach–support (keterampilan-pengajaran-dukungan). Pada tahap train, guru mengikuti pelatihan terstruktur, misalnya dalam bentuk workshop beberapa hari. Fokusnya pada pemahaman keterampilan inti DBT serta cara menerjemahkannya secara praktis ke dalam konteks kelas. Selanjutnya pada tahap teach, guru mengajarkan modul DBT sebagai bagian dari pembelajaran rutin, menggunakan bahasa keterampilan (skills-based language), dan contoh yang dekat dengan pengalaman sehari-hari siswa. Sebagai contoh, DBT mengajarkan pelatihan mindful pause kepada anak dan remaja. Tujuannya untuk menghentikan perilaku impulsif. Contohnya, saat kita menerima ejekan dari teman, hindari langsung merespons. Beri jeda selama 10-30 detik, sembari menarik napas dalam saat kita merasakan emosi yang meluap (seperti sedih atau marah). Lalu, pertimbangkan kembali apakah kita perlu menanggapi atau mengabaikannya.Tahap support memastikan keberlanjutan penerapan DBT melalui supervisi ringan dan berjenjang. Tahap ini bertumpu pada komunitas praktik antarguru, penguatan materi berkala, serta afiliasi dengan tenaga kesehatan mental rujukan yang jelas untuk kaum muda berkonsultasi ketika muncul risiko lebih serius.Diterapkan lebih luasDengan bukti awal yang menjanjikan, pendekatan berbasis DBT tidak hanya relevan di sekolah, tetapi juga berpotensi diperluas ke tingkat keluarga—mengingat kondisi keluarga sering kali berdampak terhadap risiko bunuh diri anak dan remaja. Penerapannya perlu dilakukan secara bertahap sebagai bentuk pendidikan psikologis untuk memperkuat keterampilan anak mengelola emosi, sambil terus diteliti dan disesuaikan dengan konteks lokal.Tantangannya kini adalah bagaimana sistem pendidikan dan komunitas berani menjadikan regulasi emosi sebagai bagian inti dari proses tumbuh kembang kaum muda.Jika artikel ini membuatmu khawatir, atau jika kamu khawatir tentang seseorang yang kamu kenal, bicarakanlah dengan orang yang kamu percaya atau profesional kesehatan.Darien Alfa Cipta tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.