Filosofi Jawa Aja rumangsa bisa, nanging bisa rumangsa adalah pitutur luhur yang sarat makna etika, kepemimpinan, dan kebijaksanaan hidup. Secara harfiah, ungkapan ini berarti “Jangan merasa bisa, tetapi bisalah merasa.” Sepintas terdengar sederhana, namun di dalamnya terkandung ajaran mendalam tentang kerendahan hati, empati, dan kesadaran diri.Dalam budaya Jawa, manusia tidak hanya dinilai dari kecakapan atau kepandaiannya, tetapi dari kehalusan rasa dan kebijaksanaan sikapnya. Ungkapan ini mengingatkan bahwa kemampuan tanpa kesadaran diri dapat berubah menjadi kesombongan. Seseorang yang rumangsa bisa (merasa bisa) cenderung menutup diri dari kritik, merasa paling benar, dan sulit menerima pendapat orang lain. Sikap demikian dalam jangka panjang dapat merusak relasi sosial, bahkan menghancurkan kepemimpinan.Ilustrasi orang yang menutup diri/ anti kritik. Sumber PexelsSebaliknya, bisa rumangsa berarti memiliki kepekaan batin: mampu merasakan situasi, memahami perasaan orang lain, dan menempatkan diri secara tepat. Inilah inti kebijaksanaan Jawa—mengutamakan harmoni daripada ego pribadi. Orang yang bisa rumangsa tidak perlu memamerkan kemampuan, karena kualitas dirinya akan tampak melalui tindakan yang bijaksana dan penuh pertimbangan.Dalam konteks kehidupan modern yang serba kompetitif, filosofi ini terasa semakin relevan. Era digital mendorong orang untuk terus menunjukkan pencapaian, memamerkan keberhasilan, dan membangun citra diri. Tanpa disadari, budaya ini bisa menumbuhkan mentalitas rumangsa bisa: merasa paling pintar karena banyak gelar, merasa paling sukses karena jabatan tinggi, atau merasa paling benar karena banyak pengikut di media sosial. Padahal, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin dalam pula rasa rendah hatinya.Ilustrasi orang yang mau melayani dengan rasa yang tulus. Sumber : PexelsFilosofi ini juga penting dalam kepemimpinan. Pemimpin yang rumangsa bisa cenderung otoriter dan sulit menerima masukan. Sebaliknya, pemimpin yang bisa rumangsa akan mendengarkan, mempertimbangkan, dan memahami kondisi anggotanya. Ia sadar bahwa keberhasilan bukan hasil kerja individu semata, melainkan kolaborasi bersama. Dalam tradisi Jawa, kepemimpinan yang ideal bukanlah yang keras dan dominan, melainkan yang ngemong—membimbing dengan kebijaksanaan dan keteladanan.Lebih jauh lagi, ungkapan ini mengajarkan pentingnya introspeksi. Manusia sering kali sibuk menilai orang lain, tetapi lupa menilai diri sendiri. Aja rumangsa bisa mengingatkan kita untuk tidak cepat merasa cukup. Selalu ada ruang untuk belajar, memperbaiki diri, dan berkembang. Sedangkan nanging bisa rumangsa mendorong kita untuk peka terhadap dampak perilaku kita terhadap orang lain. Apakah ucapan kita menyakiti? Apakah keputusan kita merugikan? Apakah tindakan kita menciptakan harmoni atau justru konflik?Ilustrasi orang jawa yang menggambarkan kehangatan dalam berkomunikasi tanpa ada yang merasa "paling". Sumber : PexelsDalam kehidupan sosial, filosofi ini menjadi fondasi toleransi. Dengan bisa rumangsa, seseorang akan lebih mudah menghargai perbedaan pandangan, latar belakang, maupun keyakinan. Ia tidak memaksakan kehendak, melainkan berusaha memahami sudut pandang lain. Di tengah masyarakat yang majemuk seperti Indonesia, sikap ini menjadi kunci persatuan.Pada akhirnya, filososi aja rumangsa bisa, nanging bisa rumangsa bukanlah ajaran untuk merendahkan diri secara berlebihan atau tidak percaya diri. Justru sebaliknya, ini adalah ajaran untuk menyeimbangkan kemampuan dengan kebijaksanaan. Kepandaian tanpa empati akan kering makna. Namun kemampuan yang disertai kepekaan akan melahirkan pribadi yang arif, dihormati bukan karena kekuasaan, melainkan karena ketulusan.Filosofi ini mengajak kita kembali pada kesadaran bahwa hidup bukan sekadar tentang menunjukkan siapa yang paling mampu, melainkan tentang bagaimana kemampuan itu digunakan untuk kebaikan bersama. Dalam keheningan nilai-nilai Jawa, tersirat pesan sederhana namun mendalam: semakin kita merasa “bisa”, semakin kita perlu belajar untuk “merasa.”