Antara Ekspresi Kreativitas dan Toleransi Bertetangga

Wait 5 sec.

Pawai kreatifitas pemuda membangunkan sahur (dok foto @pitutsaputra)Di banyak kampung, tradisi membangunkan sahur menjadi momen yang penuh warna, pemuda masjid berarak dengan kostum cerah, memukul bedug dan peralatan rumah tangga seperti paduan suara dan marching band yang riang, sementara suara toa masjid mengalun mengingatkan warga akan waktu sahur. Ekspresi kreativitas ini lahir dari niat mulia, mengingatkan sesama untuk menunaikan kewajiban sahur sebelum berpuasa, namun di balik keriuhan itu tersimpan dilema etika dan kemanusiaan yang perlu ditangani dengan bijak.Kreativitas dalam membangunkan sahur adalah bentuk partisipasi sosial yang patut diapresiasi. Ketika pemuda desa menyalurkan energi mereka melalui arak-arakan atau pertunjukan sederhana, mereka bukan sekadar membuat suasana meriah, namun mereka juga memperkuat ikatan komunitas, melatih kerja sama, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap tradisi lokal. Di sisi lain, suara keras yang berulang-ulang pada dini hari menjelang subuh dapat mengganggu mereka yang membutuhkan ketenangan, bayi yang sedang tidur, pasien yang memerlukan istirahat, atau warga non-Muslim yang tinggal berdampingan. Di sinilah letak tantangannya, bagaimana menjaga semangat kreatif tanpa mengorbankan kenyamanan dan hak orang lain.Pemuda desa antusias marching band dengan kostum unik membangunkan sahur warga (dok foto @pitutsaputra)Toleransi mutlak diperlukan, pemetaan titik rawan dan kontrol suara menjadi langkah praktis yang dapat mengurangi konflik. Pemerintah desa dan pengurus masjid bisa bekerja sama dengan komunitas pemuda untuk menentukan rute arak-arakan yang tidak melewati area sensitif, serta menetapkan jam dan durasi pemberitahuan yang wajar. Penggunaan pengeras suara sebaiknya diatur, volume disesuaikan, durasi dibatasi, dan arah toa diatur agar tidak langsung mengarah ke kamar tidur rumah sakit atau rumah warga yang rentan. Dengan perencanaan sederhana ini, niat baik untuk membangunkan sahur tetap terjaga tanpa menimbulkan gangguan berlebihan.Pendidikan dan komunikasi antar sesama adalah kunci. Sosialisasi tentang pentingnya toleransi dan menghormati tetangga harus dilakukan jauh sebelum bulan Ramadan tiba. Pengurus desa dapat mengadakan pertemuan singkat yang melibatkan tokoh agama, pemuda, dan perwakilan warga non-Muslim untuk menyepakati norma bersama. Dalam pertemuan itu, pihak pemuda bisa menjelaskan bentuk kegiatan yang akan dilakukan, sementara warga dapat menyampaikan titik-titik yang perlu dihindari. Kesepakatan semacam ini tidak hanya mencegah gesekan, tetapi juga memperkuat toleransi serta rasa saling menghormati.Pemuda desa memukul tetabuhan dari bahan recycle saat sahur (dok foto @pitutsaputra)Kreativitas tidak harus selalu berujung pada kebisingan. Ada banyak alternatif yang tetap menarik namun lebih ramah lingkungan sosial. Misalnya, arak-arakan dengan alat musik akustik yang lebih lembut, penggunaan lampu hias sebagai penanda waktu sahur, atau pembagian selebaran pengingat sahur yang dibuat dengan desain menarik. Teknologi sederhana seperti grup pesan singkat atau aplikasi komunitas juga bisa dimanfaatkan untuk mengingatkan waktu sahur tanpa harus mengandalkan suara keras. Ide-ide ini membuka ruang bagi ekspresi yang lebih inklusif dan sensitif terhadap kebutuhan semua warga.Empati menjadi landasan moral yang tak boleh diabaikan. Ketika komunitas pemuda memahami bahwa di lingkungan mereka ada bayi, lansia, atau orang sakit yang memerlukan ketenangan, mereka akan lebih mudah menyesuaikan cara berkreasi. Begitu pula, warga yang merasa terganggu perlu menyampaikan keluhan dengan cara yang santun dan konstruktif, bukan dengan sikap antipati yang memecah kebersamaan. Sikap saling memahami dan komunikasi yang terbuka akan menumbuhkan solusi bersama yang adil.Peran pemerintah desa dan lembaga keagamaan sangat strategis. Mereka dapat merumuskan kebijakan lokal yang mengatur kegiatan sahur massal, pedoman volume pengeras suara, jam operasional, rute arak-arakan, serta mekanisme pengaduan cepat jika ada warga yang terdampak. Kebijakan ini bukan untuk membungkam tradisi, melainkan untuk menyeimbangkan hak beribadah dan hak atas ketenangan. Ketika aturan dibuat bersama dan dilaksanakan dengan konsisten, konflik dapat diminimalkan dan tradisi tetap lestari.Akhirnya, menjaga tradisi sambil menghormati sesama adalah bentuk kedewasaan sosial. Kreativitas yang lahir dari semangat kebersamaan seharusnya menjadi jembatan, bukan jurang pemisah. Dengan pemetaan titik rawan, kontrol suara, alternatif kreatif yang lebih ramah, serta komunikasi yang penuh empati, kegiatan membangunkan sahur dapat berlangsung harmonis. Niat baik untuk mengingatkan sahur akan terasa lebih mulia ketika diwujudkan dengan cara yang menghormati hak dan kenyamanan semua warga.Tradisi adalah cermin identitas komunitas, etika bertetangga adalah cermin kemanusiaan. Ketika keduanya berjalan beriringan, suasana kampung menjadi hangat, aman, dan penuh makna. Semoga setiap dentang bedug, setiap alunan toa, dan setiap langkah arak-arakan menjadi pengingat bahwa kebaikan sejati tidak hanya dilihat dari niat, tetapi juga dari cara kita menghormati orang lain.