Ilusi Kinerja Organisasi: Budaya ABS Salah Satunya?

Wait 5 sec.

Gambar Ilustrasi.Budaya “asal bapak senang” (ABS) bukan istilah baru dalam birokrasi maupun korporasi. Praktiknya masih terasa. Laporan dibuat rapi, angka ditampilkan optimistis, kritik dipoles agar tidak mengusik kenyamanan pimpinan. Organisasi tampak baik di atas kertas, tapi persoalan di lapangan kerap tersembunyi.Budaya ini tidak lahir tiba-tiba. Ia lahir dari budaya kerja yang menempatkan pimpinan sebagai pusat kebenaran. Ketika pimpinan lebih menyukai kabar baik dibanding laporan objektif, bawahan belajar menyesuaikan diri. Informasi disaring. Risiko diperkecil. Masalah ditunda.Dalam jangka pendek, situasi ini terasa aman. Tidak ada konflik terbuka. Pimpinan merasa kinerja berjalan sesuai target. Namun dalam jangka panjang, ABS menciptakan ilusi kinerja.Kepemimpinan dan Isolasi RealitasOrganisasi yang dikuasai ABS perlahan membuat pemimpinnya terisolasi dari realitas. Data tidak lagi mencerminkan kondisi sesungguhnya. Masukan kritis dianggap ancaman. Inovasi tersendat karena bawahan enggan mengambil risiko.Padahal kepemimpinan yang sehat justru membutuhkan ruang bagi kritik yang membangun. Kritik bukan bentuk pembangkangan, melainkan mekanisme koreksi. Tanpa umpan balik akurat, keputusan strategis berisiko keliru.Dalam perspektif perilaku organisasi, budaya terbentuk dari sinyal yang dikirim pemimpin. Jika pimpinan menghargai transparansi, bawahan akan terbuka. Jika pimpinan menghukum kesalahan tanpa ruang evaluasi, bawahan cenderung menyembunyikan masalah.Budaya ABS sering kali bukan kesalahan individu, melainkan kegagalan sistem membangun psychological safety, rasa aman untuk berbicara jujur tanpa takut dihukum.Dampak terhadap Kinerja PublikDi sektor publik, dampaknya lebih serius. Layanan masyarakat bergantung pada informasi yang akurat dan keputusan yang tepat. Jika data dipoles demi menyenangkan atasan, kebijakan yang dihasilkan bisa meleset dari kebutuhan masyarakat.Reformasi birokrasi selama ini banyak menekankan sistem merit dan digitalisasi. Namun reformasi struktural tidak cukup tanpa reformasi budaya. Integritas organisasi tidak hanya ditentukan oleh aturan, tetapi oleh perilaku sehari-hari.Budaya ABS mengikis ruang kritik internal. Pegawai yang sebenarnya memiliki kapasitas dan integritas memilih menahan diri saat melihat kekeliruan, karena menyampaikan kebenaran dianggap berisiko. Dalam jangka panjang, organisasi kehilangan mekanisme koreksi yang justru dibutuhkan untuk menjaga kualitas keputusan.Membangun Budaya KeterbukaanMengatasi ABS bukan perkara slogan. Ia membutuhkan komitmen kepemimpinan. Perubahan budaya selalu dimulai dari sikap di level puncak organisasi.Pertama, pimpinan perlu memberi ruang bagi laporan yang jujur, termasuk informasi yang tidak menyenangkan. Transparansi harus dihargai, bukan dihukum.Kedua, sistem evaluasi kinerja perlu berbasis data yang dapat diverifikasi. Mekanisme umpan balik perlu diperluas, misalnya melalui penilaian lintas level yang memungkinkan atasan, rekan kerja, dan bawahan saling memberi masukan. Pendekatan ini membantu menjaga objektivitas dan mengurangi bias hierarkis.Ketiga, organisasi harus membangun budaya dialog. Forum internal yang memungkinkan diskusi terbuka tanpa hierarki kaku dapat mengurangi jarak antara pimpinan dan realitas lapangan.Pada akhirnya, kepemimpinan bukan soal disenangkan, melainkan keberanian mendengar kebenaran. Organisasi yang sehat bukan yang selalu tampak baik, tetapi yang mampu mengakui kekurangan dan memperbaikinya.Dalam perspektif etika kepemimpinan, sebagaimana dijelaskan Peter G. Northouse (2019), kepemimpinan memiliki dimensi moral karena melibatkan proses memengaruhi orang lain untuk mencapai tujuan bersama. Di titik ini, kejujuran menjadi prinsip utama. Pemimpin yang beretika tidak membiarkan informasi dipoles demi kenyamanan, karena keputusan yang adil hanya lahir dari fakta yang utuh.Kepemimpinan yang etis menuntut keberanian moral: menghargai kritik, menerima koreksi, dan menjaga integritas keputusan. Tanpa itu, organisasi mudah terjebak dalam ilusi kinerja. Sebaliknya, ketika etika ditegakkan dari puncak, kepercayaan akan tumbuh dan tata kelola menjadi lebih kokoh.