Bendera Iran berkibar setelah Israel dan AS melancarkan serangan terhadap Iran, di Teheran, Iran, Sabtu (28/2/2026). Foto: Majid Asgaripour/WANA via ReutersSelat Hormuz dikenal sebagai jalur vital pengiriman minyak dunia. Selat itu yang selama ini kerap dimanfaatkan Iran sebagai instrumen tekanan geopolitik, dengan ancaman penutupan yang berulang kali disampaikan setiap ketegangan memuncak.Ketegangan terbaru meningkat usai Amerika Serikat (AS) bersama Israel menyerang Iran pada Sabtu (28/2), yang terjadi hanya dua hari setelah delegasi Teheran dan Washington bertemu di Swiss untuk menjalani putaran ketiga perundingan mengenai aktivitas nuklir Iran.Pada akhir Januari, komandan senior angkatan laut Garda Revolusi Iran kembali mengancam penutupan selat tersebut jika terjadi serangan, setelah Presiden AS Donald Trump memperingatkan kemungkinan aksi militer apabila Iran gagal mencapai kesepakatan untuk mengekang program nuklirnya.Meski sering mengeluarkan ancaman blokade, Teheran belum pernah benar-benar melakukannya, walaupun sempat menutup sebagian selat untuk sementara waktu dengan alasan keselamatan selama latihan militer baru-baru ini.Berikut poin-poin penting mengenai Selat Hormuz, dikutip dari AFP, Sabtu (28/2):Gerbang Menuju TelukSelat Hormuz menghubungkan Teluk dengan Samudra Hindia dan terletak di antara Iran dan eksklave Musandam milik Oman, yang berada di ujung semenanjung. Lebarnya sekitar 50 kilometer, serta perairannya yang dangkal yaitu tidak lebih dari 60 meter, membuatnya rentan untuk ditutup secara militer.Selat ini dipenuhi pulau-pulau kecil yang tak banyak penduduk atau berupa gurun yang memiliki nilai strategis, terutama pulau-pulau Iran seperti Hormuz, Qeshm, dan Larak.Di antaranya juga terdapat pulau sengketa Greater Tunb, Lesser Tunb, dan Abu Musa, yang terletak antara Uni Emirat Arab dan Iran serta memberikan titik pandang strategis ke Teluk. Pulau-pulau tersebut berada di bawah kendali Iran sejak 1971.Titik Transit Utama MinyakIlustrasi Selat Hormuz. Foto: lavizzara/ShutterstockSelat ini merupakan koridor vital yang menghubungkan kawasan Teluk yang kaya minyak dengan pasar di Asia, Eropa, Amerika Utara, dan wilayah lainnya.Menurut Badan Informasi Energi AS (EIA), Selat Hormuz adalah salah satu titik sempit jalur minyak paling penting di dunia. Sekitar seperlima konsumsi minyak dan produk petroleum global melewati selat ini, dengan rata-rata 20 juta barel per hari pada 2024. Di sisi lain, seperlima perdagangan gas alam cair dunia juga melintas melalui Selat Hormuz pada 2024, terutama berasal dari Qatar.Arab Saudi dan Uni Emirat Arab memiliki infrastruktur untuk melewati selat tersebut sehingga berpotensi mengurangi gangguan, tetapi kapasitas transitnya masih sangat terbatas, sekitar 2,6 juta barel per hari.“Volume minyak yang besar mengalir melalui selat ini, dan sangat sedikit opsi alternatif untuk menyalurkan minyak keluar jika selat ditutup,” kata EIA.Menurut firma analisis Kpler, lebih dari 80 persen minyak dan gas yang melewati selat ini ditujukan ke pasar Asia. China, salah satu pendukung utama Teheran, membeli lebih dari 90 persen ekspor minyak Iran.Tempat Singgahan MiliterGarda Revolusi Iran mengendalikan operasi angkatan laut di Teluk dan Selat Hormuz. Teheran berulang kali mengkritik kehadiran kekuatan asing di kawasan tersebut, yang juga menjadi lokasi Armada Kelima AS di Bahrain dan pangkalan militer terbesar AS di Timur Tengah yang berada di Qatar.Pada 2023, pasukan angkatan laut Barat yang beroperasi di Teluk memperingatkan kapal yang melintas di selat agar tidak mendekati perairan Iran guna menghindari risiko penyitaan.Sejumlah insiden serupa terjadi sejak 2018, ketika Trump menarik diri dari kesepakatan nuklir penting dengan Iran dan kembali menjatuhkan sanksi berat terhadap negara itu, sehingga ketegangan melonjak.Transit minyak sempat terganggu pada 1984 selama Perang Iran-Irak ketika kedua pihak saling menyerang kapal lawan, merusak atau menghancurkan lebih dari 500 kapal dalam konflik yang dikenal sebagai “Perang Tanker”.Setelah Teheran menanam ranjau di selat tersebut, fregat USS Samuel B. Roberts menabrak salah satunya pada April 1988 dan hampir tenggelam.Pada Juli tahun yang sama, pesawat Iran Air Airbus A300 rute Bandar Abbas, Dubai ditembak jatuh oleh dua rudal yang ditembakkan dari fregat AS, menewaskan 290 orang. Awak USS Vincennes mengatakan mereka keliru mengira pesawat sipil itu sebagai jet tempur Iran yang bermusuhan.Selat Hormuz juga kerap menjadi lokasi penyitaan kapal dan serangan. Insiden meningkat setelah AS menarik diri pada 2018 dari perjanjian internasional terkait program nuklir Iran.Pada 2019, serangan tak diklaim terhadap kapal di kawasan Teluk, jatuhnya drone, dan penyitaan kapal tanker memicu kekhawatiran eskalasi antara Teheran dan Washington.Pada 29 Juli 2021, serangan di Teluk Oman terhadap kapal tanker yang dioperasikan perusahaan milik miliarder Israel menewaskan dua orang. Israel, Amerika Serikat, Inggris, dan Rumania menuduh Teheran, yang membantah keterlibatan.Pada April 2024, Garda Revolusi menyita kapal kontainer berbendera Portugal MSC Aries dengan menuduh pemiliknya memiliki “keterkaitan dengan Israel”.Komando Pusat AS menyatakan pada awal Februari ini, sebuah kapal tanker berbendera AS didekati dan ditantang oleh kapal bersenjata Iran di selat tersebut sebelum akhirnya melanjutkan pelayaran, menurut Komando Pusat AS.