Kisah Warung Sedekah di Kudus Berbagi Makanan untuk Mereka yang Tak Mampu

Wait 5 sec.

Bosnia Sasmita membagikan nasi bungkus di Warung Sedekah di Kabupaten Kudus, pada Minggu (1/3). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanMenjelang Azan Magrib, di pinggir Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kudus, sebuah tenda kecil berukuran 2x2 meter berdiri sederhana. Di bawahnya, ratusan nasi bungkus tersusun rapi. Satu per satu warga datang mengantre, menanti waktu berbuka. Di tempat itulah, Warung Sedekah menyalakan harapan setiap Ramadan.Warung Sedekah itu merupakan inisiatif Bosnia Sasmita, warga asal Desa Payaman, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus. Warung Sedekah tersebut berdiri pada Kamis Legi, 7 Januari 2016.Pantauan di lokasi pada Minggu (1/3), kumparan melihat Bosnia masih sibuk memasang tenda berukuran 2 meter x 2 meter, tepatnya di Jalan Jenderal Ahmad Yani atau di sebelah selatan Alun-alun Simpang Tujuh. Pada pukul 16.00 WIB, ia merakit tendanya untuk tempat meletakkan nasi bungkus dan air mineral.Menu nasi bungkus di Warung Sedekah, Kabupaten Kudus, pada Minggu (1/3). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanSetelah tenda Warung Sedekah berdiri, sejumlah orang yang telah menunggu mengantre untuk menerima nasi bungkus dan air mineral. Mereka yang datang berasal dari berbagai profesi, mulai dari tukang sapu jalanan, tukang becak, ojek online, pengemis, dan lainnya.Bosnia menyampaikan, Warung Sedekah yang diinisiasinya itu buka setiap Senin dan Kamis saat bukan bulan Ramadan. Sedekah yang diberikan berupa nasi bungkus dan air mineral. Ada 300 nasi bungkus yang dibagikan sore ini. Ratusan nasi bungkus tersebut berasal dari berbagai donatur serta uang pribadinya."Kalau momen Ramadan seperti ini, kami bagikan satu jam sebelum berbuka puasa," katanya saat ditemui di lokasi, Minggu (1/3).Bosnia Sasmita menunjukkan menu nasi bungkus di Warung Sedekah di Kabupaten Kudus, pada Minggu (1/3). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanIa melayani masyarakat yang datang dengan ramah. Sesekali Bosnia melempar candaan. Terkadang, jika air mineral tak cukup, dirinya meminta maaf."Air mineralnya tidak cukup. Nasi saja tidak apa-apa ya," ucapnya kepada warga yang sedang mengantre.Warung Sedekah miliknya setidaknya sudah berjalan selama 11 tahun. Alasan dirinya konsisten berbagi karena berharap rida Allah SWT."Saya memberi makan semata-mata mengharap rida Allah SWT," ujarnya.Pria yang kesehariannya bekerja sebagai wiraswasta itu menjelaskan, biasanya masyarakat memilih membawa pulang nasi bungkus tersebut. Namun, ada juga yang memilih berbuka di tempat. Pria 59 tahun itu juga menyediakan piring, meja, dan kursi bagi masyarakat yang memilih berbuka di tempat.Ada kriteria penerima Warung Sedekah ini, yakni fakir, miskin, dan duafa. Namun, apabila ada orang yang terlihat mampu, ia tak segan untuk berbagi."Ibaratnya ada orang naik mobil Pajero mampir ke sini minta nasi, ya saya bagikan. Bisa saja dia seorang sopir yang memang membutuhkan makan," ujarnya.Dirinya melontarkan sebuah ayat Al-Qur'an dari Surat Al-Munafiqun ayat 10. Arti dari surat tersebut menjadi pedoman hidupnya."Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum kematian datang," jelasnya.Sebagai penjelasan, bunyi Surat Al-Munafiqun ayat 10 yakni, "Infakkanlah sebagian dari apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu sebelum kematian datang kepada salah seorang di antaramu. Dia lalu berkata (sambil menyesal), 'Ya Tuhanku, sekiranya Engkau berkenan menunda (kematian)-ku sedikit waktu lagi, aku akan dapat bersedekah dan aku akan termasuk orang-orang saleh.'"Bosnia Sasmita membagikan nasi bungkus di Warung Sedekah di Kabupaten Kudus, pada Minggu (1/3). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan"Tiap-tiap orang dapat satu nasi bungkus. Tidak boleh titip-titipan, kalau mau harus datang sendiri. Untuk menu yang disediakan hari ini meliputi nasi, telur bacem, gudeg, dan tahu bacem," ungkapnya.Ke depannya, dia akan terus konsisten menebar kebaikan melalui nasi bungkus. Seperti yang tertera pada Surah Ali Imran ayat 134 yang berbunyi, "orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.""Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik," ucapnya.Lebih dari sepuluh tahun ia berbagi nasi bungkus. Namun, ia tak pernah merasa lelah. Ia percaya segala tindakan kebaikan jika dijalankan dengan "lillah", maka tak akan "lelah"."Harapan saya ke depannya bisa terus memberikan kemanfaatan bagi orang lain," imbuhnya.Salah seorang warga asal Kabupaten Kudus, Ahmad, mengaku sudah tiga kali datang. Ia senang dengan menu nasi bungkus yang disajikan."Sudah tiga kali ini saya ke sini, menunya enak," ujarnya.Bosnia Sasmita membagikan nasi bungkus di Warung Sedekah di Kabupaten Kudus, pada Minggu (1/3). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanEndang, warga asal Kabupaten Kudus, juga ikut mengantre menu berbuka puasa di Warung Sedekah. Ia baru pertama kali datang."Baru pertama ini, dapat informasi dari teman-teman. Ya lumayan buat berbuka puasa," ucapnya.Seorang tukang becak, Kalisan, mengaku sudah sering datang untuk mencari menu berbuka puasa. Ia bahkan sudah hafal jadwal Warung Sedekah."Saya ke sini tidak hanya saat Ramadan. Setiap Senin dan Kamis kalau tidak Ramadan juga ke sini. Ini tadi kebetulan lewat sekalian antre nasi," imbuhnya.