Tampak luar Masjid Tjia Khang Hoo, Jakarta Timur yang bentuknya menyerupai kelenteng dan didominasi unsur berwarna merah serta terdapat ornamen khas Tionghoa seperti lampion, Kamis (26/2). Foto: Ryan Iqbal/kumparanMasjid Tjia Khang Hoo, Jakarta Timur dikenal atas kekhasan bentuknya yang mirip dengan kelenteng. Merah mendominasi seluruh bangunan, belum lagi dengan ornamen khas China di sejumlah sudutnya.Ketua DKM Masjid Tjia Khang Hoo, Wildan (32) mengungkapkan nama masjid ini diambil dari seorang Tjia Kang Hoo, Tionghoa yang kemudian menjadi mualaf. Tampak luar Masjid Tjia Khang Hoo, Jakarta Timur yang bentuknya menyerupai kelenteng dan didominasi unsur berwarna merah serta terdapat ornamen khas Tionghoa seperti lampion, Kamis (26/2). Foto: Ryan Iqbal/kumparanTjia Kang Hoo adalah kakek dari Wildan sendiri. "Jadi nama Tjia Kang Hoo ini kita ambil, itu nama Almarhum Kakek saya sebelum mualaf. Setelah dia mualaf, dia ganti nama jadi Abdul Sholeh," ungkap Wildan saat ditemui pada Kamis (26/2).Tjia Kang Hoo jadi mualaf untuk menikahi istrinya, yang beragama Islam. Setelah menikah, mereka berdua memiliki tempat tinggal tepat di titik masjid ini.Tampak luar Masjid Tjia Khang Hoo, Jakarta Timur yang bentuknya menyerupai kelenteng dan didominasi unsur berwarna merah serta terdapat ornamen khas Tionghoa seperti lampion, Kamis (26/2). Foto: Ryan Iqbal/kumparan"Itu jadi beliau pindah ke Muslim, beliau mualaf, itu kalau enggak salah untuk nikah dengan Almarhumah Nenek saya. Nenek saya kebetulan asli Betawi sini juga gitu kan," kata Wildan.Setelah menjadi mualaf, Wildan mengatakan bahwa Tjia Khang Hoo kerap kali menggelar agenda pengajian di kediamannya."Jadi setelah dia mualaf tuh emang dia sering adakan agenda-agenda Islam maksudnya kayak pengajian, sering diadain di rumahnya itu, tapi tidak intens," ucap Wildan.Tampak luar Masjid Tjia Khang Hoo, Jakarta Timur yang bentuknya menyerupai kelenteng dan didominasi unsur berwarna merah serta terdapat ornamen khas Tionghoa seperti lampion, Kamis (26/2). Foto: Ryan Iqbal/kumparanKemudian, kediaman Tjia Khang Hoo sempat menjadi sebuah mushola. Seiring berjalannya waktu, Wildan mengungkapkan pembangunan dilakukan dan berdirilah masjid seperti saat ini."Sebenarnya awalnya mushola dulu gitu kan. Nah, semenjak sini terus udah berjalan terus dari pembangunan, itu kita masih pakai tenda, itu sudah kita adain terus gitu kan. Nah, sementara ini kan udah bisa gunakan nih, udah beroperasi seperti biasa dulu lah gitu," tutur Wildan.Masjid ini mulai dibangun pada 8 Oktober 2022, desainnya dirancang oleh anak Tjio Khang Hoo, Budianto. Desain kental dengan ornamen China dan mirip kelenteng, adalah upaya Budianto untuk tak meninggalkan akarnya, sebagai keturunan Tionghoa.Wildan (32) Ketua DKM Masjid Tjia Khang Hoo, Jakarta Timur sekaligus cucu dari Tjia Khang Hoo atau Abdul Soleh, Kamis (26/2). Foto: Ryan Iqbal/kumparan"Dan kedua, kebetulan juga ayah saya tidak ingin melupakan lah, walaupun kita sekeluarga besar sudah Muslim, tapi dia tidak ingin melupakan sejarah bahwa kakek saya ini pernah ada keturunan, maksudnya pernah jadi seorang mualaf juga gitu kan. Jadi beliau ingin punya masjid dengan berbentuk bangunan kelenteng," ungkap Wildan.Saat ini, Wildan mengungkapkan kondisi bangunan masjid sebetulnya baru mencapai 80%, walaupun kegiatan beribadah telah berjalan. Ia mengatakan bila sudah selesai semua, jenazah Tjia Khang Hoo beserta istrinya akan dipindahkan ke area belakang masjid ini."Untuk dikuburnya kakek nenek saya ini di TPU Tipar sini, enggak jauh dari sini. Nanti insyaallah kalau ini udah rampung semua, bakal kita pindahin ke sini. Insyaallah di belakang mau jadi pemakaman keluarga gitu kan," ujar Wildan.