Mengintip Percetakan Tertua di Kudus, Konsisten Cetak Al-Quran dan Kitab

Wait 5 sec.

Karyawan Percetakan Menara Kudus menunjukkan huruf hijaiyah sebelum dicetak. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanPercetakan Menara Kudus merupakan percetakan tertua di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Didirikan pada 1955, usia Percetakan Menara Kudus kini menyentuh 71 tahun.kepada kumparan, Manajer Personalia Percetakan Menara Kudus, Alexander Yusuf, bercerita sejarah berdirinya percetakan yang didirikan oleh H Zaenuri Noor itu.Kala itu, percetakan dimulai dari rumah H Zaenuri Noor yang beralamat di Jalan Kiai Telingsing Nomor 12. Ia sekaligus sebagai generasi pertama pendiri percetakan.Saat awal pertama berdiri, Percetakan Menara Kudus tak langsung mencetak Al-Quran. Namun, memulai dari kitab-kitab yang digunakan sebagai media belajar pondok pesantren dan madrasah."Proses produksi dan percetakan dilakukan dari gudang rumah H Zaenuri Noor. Di tahun tersebut hanya mencetak kitab-kitab saja," katanya, Rabu (25/2).Kemudian, tepat di tahun 1960 Percetakan Menara Kudus membuka usaha di kawasan Masjid dan Menara Kudus. Lokasi persisnya di Jalan Menara Nomor 4. Sembari memperluas wilayah percetakan, gudang di rumah H Zaenuri Noor masih eksis melakukan produksi.Seiring berjalannya waktu, pada 1970 pihaknya mulai mencetak Al-Quran. Di tahun ini pula, Percetakan Menara menambah lagi tempat produksi. Lokasinya berada di Jalan HM Subchan atau di sebelah selatan perempatan jember."Pada 1984 keseluruhan kegiatan percetakan pindah di sini semua (Desa Bakalankrapyak, Kabupaten Kudus, red)," sambungnya.Gudang di rumah yang sempat digunakan untuk proses produksi akhirnya peruntukannya kembali menjadi rumah. Sedangkan percetakan di kawasan Masjid dan Menara Kudus beralih menjadi toko. Sedangkan tempat percetakan di Jalan HM Subchan telah dijual.Alex-sapaan Alexander Yusuf mengungkapkan, sebagai percetakan tertua tentu mengalami tantangan sejak awal berdiri. Di era saat itu apabila tidak memiliki koneksi dengan kiai dirasa sulit untuk melakukan pemasaran.Karyawan Percetakan Menara Kudus menyelesaikan pencetakan kitab pada Rabu (25/2). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparan"Ada kedekatan yang dijalin oleh Pak H Zaenuri Noor dengan para kiai. Pemasaran kitab dan Al-Quran saat itu ke madrasah dan pondok pesantren, kalau tidak kenal kiai sulit menawarkan produk kami,” terangnya.Di lain sisi, saat itu para kiai juga membutuhkan adanya bahan ajar berupa kitab dan Al-Quran untuk mengajar para santri di pondok pesantren maupun di sekolah. Berawal dari itu, para kiai meminta H Zaenuri Noor untuk mencetak kitab dan Al-Quran dalam jumlah besar.Kini, Percetakan Menara Kudus telah memiliki tiga generasi. Dari H Zaenuri Noor sebagai generasi pertama periode 1955 sampai 1976 kemudian berlanjut ke generasi kedua pada tahun 1976 sampai 2025.Pada generasi kedua ini, Percetakan Menara Kudus dipimpin oleh H Hilman Najib, H Muhammad Sofin, dan Ahmad Fatoni. Sementara generasi ketiga yakni Andito Perwira Fatoni pada kurun waktu 2025 hingga sekarang.Berbagai produk kitab dan Al-Quran telah dicetak Percetakan Menara Kudus. Di antaranya Al-Quran Pojok Menara, Al-Quran Al Hafidz, Al-Quran Bombai, kitab Fatul Qorib, kitab Fathul Muin dan kitab Al Ibris. Terkait khat yang digunakan pada Al-Quran terdiri mencakup khat utsmani, khat bariyah, dan khat bombay."Proses cetak di sini mencakup desain, penjilidan dan koreksi serta pencetakan. Setiap tahapannya selalu melewati koreksi terlebih dahulu," ucapnya.Tampilan Kitab Al-Ibriiz di Percetakan Menara Kudus. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanHarga yang ditawarkan untuk kitab dan Al-Quran terjangkau karena berkisar dari Rp 1.700 sampai Rp 400 ribu. Penentuan harga sudah disesuaikan dengan kantong santri dan pelajar."Pak Zaenuri Noor berusaha menjual di harga terjangkau supaya bisa memenuhi kebutuhan santri dan pelajar. Perihal bahan kertas yang digunakan itu nomor sekian,” ungkapnya.Produk kitab dan Al-Quran yang dicetak Percetakan Menara telah dipasarkan ke seluruh pondok pesantren dan madrasah Indonesia. Mulai dari Sumatera hingga Papua.Melihat usia 71 tahun Percetakan Menara Kudus diakui Alex bukanlah hal yang mudah untuk menghadapi tantangan zaman. Pihaknya selalu mengutamakan kualitas agar tetap memiliki tempat bagi pelanggan.Semakin menjamurnya percetakan Al-Quran, tentu menjadi tantangan yang harus dihadapi. Termasuk persaingan harga produk masing-masing."Proses produksi kami lakukan teliti. Korektor kami untuk mengoreksi huruf hijaiyah bisa berjam-jam. Inilah yang selalu kami coba pertahankan," jelas Alex.Karyawan Percetakan Menara Kudus menyelesaikan pencetakan kitab pada Rabu (25/2). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanPihaknya menjamin produk yang dihasilkan oleh Percetakan Menara Kudus dapat diandalkan. Selain itu produknya juga sudah di tashih para kiai. Sehingga terjamin kebenarannya.Masyarakat yang berkeinginan memiliki kitab dan Al-Quran secara custom juga bisa request di Percetakan Menara Kudus. Permintaan satu pcs kitab maupun Al-Quran tetap dilayani."Konsumen semakin kritis dan ingin punya kitab dan Al-Quran yang desainnya berbeda dari yang ada di pasaran. Melihat hal itu kami menerima pencetakan secara custom," ucap Alex.Kitab paling istimewa yang dicetak oleh Percetakan Menara Kudus yakni kitab Al-Ibris yang merupakan tafsir Al-Quran. Kitab ini karya dari Bisri Mustofa, ayah dari Mustofa Bisri."Kitab ini menjadi salah satu rujukan ketika ada pengajian. Kitab ini digunakan setiap ada pengajian di Menara Kudus. Dari segi penjualan juga lumayan karena menyentuh 100 ribu ekslempar," terang Alex kepada Kumparan.Karyawan Percetakan Menara Kudus menyelesaikan pencetakan kitab pada Rabu (25/2). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanSementara itu, di era serba digital tak mempengaruhi pasar dari Percetakan Menara Kudus. Hal itu dikarenakan Al-Quran digital tidak menyentuh pondok pesantren maupun sekolah. Melainkan tetap membutuhkan kitab dan Al-Quran fisik.Salah satu hal menarik yang menjadi kebiasaan karyawan di Percetakan Menara Kudus yakni karyawan diminta untuk berwudhu sebelum bersentuhan dengan Al-Quran. Utamanya pada divisi produksi, penjilidan dan korektor."Misalnya korektor sedang mengoreksi huruf hijaiyah pada Al-Quran. Kemudian, dia buang angin ya harus wudhu lagi. Kami menyediakan 25 toilet di area sini," kata Alex.Membiasakan berwudu setiap kali batal merupakan adab memperlakukan Al-Quran sebagai kitab suci umat Islam. Hal itu ditaati semua karyawan yang bersentuhan dengan Al-Quran.Selama Ramadan, permintaan kitab dan Al-Quran mengalami peningkatan 30 persen dibandingkan saat tidak Ramadan. Setiap Ramadan setidaknya 70 ribu kitab dan Al-Quran mengalami peningkatan. Hal ini disinyalir karena masyarakat memperbanyak tadarus di bulan Ramadan.Tampilan Kitab Al-Ibriiz di Percetakan Menara Kudus. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanPeningkatan penjualan diprediksi berlangsung sampai akhir Ramadan. Selain itu juga saat tahun ajaran baru di pondok pesantren dan madrasah.Ke depannya pihaknya berkomitmen untuk terus mencetak kitab dan Al-Quran. Pencetakan juga mempertimbangkan kualitas.Percetakan Menara Kudus saat ini telah memiliki 600 judul kitab dan Al-Quran. Percetakan Menara Kudus beroperasi setiap Senin sampai Sabtu mulai pukul 07.00 WIB sampai 15.00 WIB. Pengunjung yang hendak membeli kitab maupun Al-Quran dapat datang langsung.”Harapan kami Percetakan Menara Kudus bisa terus eksis. Masyarakat juga bisa menjaga Al-Quran sebagai pedoman," imbuhnya.