Ilustrasi pemudik saat lebaran di stasiun kereta. Foto: Dok. KAI Daop 2Ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menutup 2025 dengan capaian paling tinggi di Pulau Jawa. Pada triwulan IV-2025, ekonomi DIY tumbuh 5,94 persen secara tahunan (year-on-year/y-on-y) berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS).Secara kumulatif sepanjang 2025 (c-to-c), ekonomi DIY tumbuh 5,49 persen, meningkat dari 5,03 persen pada 2024. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tercatat Rp208,13 triliun, dengan PDRB per kapita Rp55,04 juta.Pertumbuhan triwulan IV-2025 ditopang sektor jasa dan investasi. Dari sisi produksi, lapangan usaha Jasa Lainnya tumbuh 9,70 persen, Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial 9,62 persen, serta Konstruksi 8,12 persen.Dari sisi pengeluaran, Pengeluaran Konsumsi Lembaga Non Profit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) tumbuh 9,57 persen dan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi meningkat 9,36 persen.BPS mencatat, capaian tersebut didorong keberlanjutan Proyek Strategis Nasional (PSN) serta peningkatan kunjungan wisatawan pada periode libur Natal dan Tahun Baru. Struktur ekonomi DIY yang berbasis jasa membuat momentum liburan panjang berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan.Ramadan–Lebaran Konsisten Dongkrak Triwulan IStatistisi Ahli Utama BPS Provinsi DIY, Sentot Bangun Widoyono. Foto: Pandangan Jogja/Resti DamayantiMemasuki awal 2026, momentum Ramadan dan Lebaran kembali menjadi perhatian. BPS DIY menyebut pola musiman ini dalam tiga tahun terakhir konsisten menjadi pendorong pertumbuhan pada triwulan I dan II.“Momen Ramadan dan Lebaran memang menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di DI Yogyakarta pada Triwulan I dan II selama tiga tahun terakhir, terutama melalui peningkatan konsumsi masyarakat dan kunjungan wisatawan,” ujar Statistisi Ahli Utama BPS DIY, Sentot Bangun Widoyono saat dihubungi Pandangan Jogja, Jumat (27/2).Ia menjelaskan, selama Ramadan terjadi lonjakan permintaan pada sektor makanan-minuman, pakaian, transportasi, hingga jasa lainnya. Aktivitas belanja masyarakat meningkat signifikan, termasuk kebutuhan pokok, takjil, pakaian menjelang Lebaran, serta peningkatan konsumsi listrik dan gas.“Permintaan barang dan jasa cenderung naik selama Ramadhan dan Lebaran, seperti bahan makanan dan makanan - minuman jadi, konsumsi Listrik dan gas LPG, pakaian terutama menjelang lebaran, transportasi menjelang dan pasca lebaran (periode mudik dan libur panjang), komunikasi, dan masih banyak lagi,” ujarnya.Keramaian di Kampoeng Ramadhan Jogokariyan. Foto: ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/tom.Momen Lebaran kemudian memperkuat efek tersebut melalui arus mudik dan libur panjang. Kedatangan wisatawan domestik meningkat tajam, bahkan di sejumlah pasar tradisional tercatat lonjakan signifikan dibanding hari biasa. Dampaknya terasa pada sektor perhotelan, kuliner, perdagangan ritel, hingga transportasi.“Catatan berita maupun data BPS Provinsi DI Yogyakarta dapat diringkas bahwa Lebaran memperkuat efek ini dengan naiknya permintaan domestik maupun efek mudik dan libur panjang, yang mendorong kedatangan wisatawan domestik hingga dua kali lipat di pasar seperti Beringharjo,” ujar Sentot.Secara historis, data PDRB mendukung pola tersebut. Pada triwulan I 2024 dan 2025, ekonomi DIY tumbuh masing-masing 5,04 persen dan 5,11 persen (y-on-y), menjadi yang tercepat di Jawa pada periode tersebut.Pada saat yang sama, pertumbuhan Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PKRT) tercatat 4,58 persen dan 4,80 persen. Komponen terbesar PKRT berasal dari makanan dan minuman tidak beralkohol, yang meningkat selama Ramadan dan menjelang Lebaran.Artinya, konsumsi domestik menjadi motor utama pertumbuhan di awal tahun, diperkuat mobilitas masyarakat dan pergerakan wisatawan.Sektor yang Paling DiuntungkanPengunjung berwisata di Malioboro, Yogyakarta, Selasa (23/12/2025). Foto: Andreas Fitri Atmoko/ANTARA FOTOBPS mencatat beberapa sektor yang paling terdampak positif saat Ramadan–Lebaran, antara lain:Pariwisata dan perhotelan, terdorong wisatawan mudik dan libur panjang.Kuliner dan UMKM makanan-minuman, termasuk pasar Ramadan dan oleh-oleh.Perdagangan ritel dan fesyen, terutama penjualan pakaian dan perlengkapan ibadah.Transportasi dan logistik, seiring lonjakan mobilitas penumpang dan distribusi barang.Industri pengolahan makanan, bahan pokok, tekstil, dan garmen.Telekomunikasi dan layanan digital, termasuk peningkatan transaksi digital.Proyeksi Kuartal I-2026Ilustrasi Tugu Yogyakarta. Foto: PexelsBPS memproyeksikan pola serupa berpotensi kembali terjadi pada 2026. Sentot menyebut stimulus seperti Tunjangan Hari Raya (THR) dan libur panjang akan mendorong konsumsi serta pergerakan wisatawan, yang berdampak pada PDRB triwulan I.”“Ramadan akan memicu lonjakan serupa 2024-2025, dengan stimulus Lebaran seperti THR dan libur panjang mendorong PDRB utamanya di triwulan I. Penopang utama: pariwisata (quality tourism), UMKM pangan dan tekstil, serta investasi produktif,” ujar Sentot.Namun BPS juga mengingatkan perlunya menjaga stabilisasi harga pangan melalui operasi pasar, pemantauan stok, dan koordinasi distribusi. DIY masih bergantung pada pasokan dari provinsi lain, sementara musim hujan diperkirakan berlangsung hingga Maret 2026 sehingga perlu diantisipasi dari sisi distribusi.Dengan fondasi pertumbuhan 5,94 persen pada akhir 2025 dan pola musiman yang konsisten dalam tiga tahun terakhir, Ramadan dan Lebaran berpotensi kembali menjadi penguat ekonomi DIY pada triwulan I-2026.Data resmi tetap menunggu rilis BPS, namun tren historis menunjukkan momentum hari besar keagamaan memiliki kontribusi signifikan terhadap struktur ekonomi DIY yang berbasis jasa dan pariwisata.