Kota Lama, Buku, dan Cinta

Wait 5 sec.

Ilustrasi Buku. Foto: ShutterstockEntah datangnya dari mana, tercetus sebuah ide dari salah satu kawan sejawat, yaitu membuka lapak baca buku di Kota Lama, Semarang. Ide itu dengan cepat disambut rasa antusias dari kawan yang lain. Singkat cerita, malam sehari sebelum keberangkatan, kami mengudarakan pamflet ke Instagram yang menjadi bukti keseriusan rencana membuka lapak baca ini. Kami menyepakati lapak baca akan digelar pada sore hari tanggal 14 Februari 2026. Bertepatan dengan hari Valentine. Mungkin, lapak baca ini adalah hiburan bagi kami mas-mas yang tak memiliki kekasih. Sebagian dari kami pun belum lama ini ada yang gagal mendapatkan pujaan hati.Di malam dengan gemerlap lampu yang menerangi seisi Kota Lama, kami mulai menggelar karpet pertama dan menata-nata rapi pusaka ilmu pengetahuan (baca: buku) yang telah kami bawa. Meski kala itu hujan baru berhenti dan jalanan telah basah dibuatnya, lapak baca resmi dibuka. Kami merebut ruang kota.Lapak baca ini digelar dengan buku dan alas seadanya. Kami hanya mahasiswa biasa meski ada satu pejabat kampus di antara kami.Teguran dari SecurityKami memilih lokasi pertama yang tak jauh dari taman Srigunting. Sebuah lokasi yang cocok karena tepat di pinggir kerumunan orang-orang. Meskipun, lapak kami kurang dapat pencahayaan yang cukup untuk membaca. Lokasi pertama lapak baca digelar. (Dok. pribadi)Waktu belum genap 20 menit, pengunjung pertama datang. Namun, bukan seorang pembaca, melainkan seorang security. Beberapa security jalan perlahan tenang ke arah kami. Kami semua sadar tapi memilih berpura-pura sibuk membaca buku. Benar saja, pak security menegur dan meminta kami pindah lokasi.Setelah security itu selesai menegur, kami bergegas pindah ke lokasi kedua di gang di seberang gereja G.P.I.B. Immanuel. Sesaat semua kembali seperti semula, kami menghela napas lega.Seorang perempuan muda berhijab berjalan melambat dan matanya terlihat fokus membaca satu per satu judul buku yang berjejer. Awalnya, kami mengira perempuan itu akan menjadi pengunjung pertama. Namun, ia tidak mampir. Mungkin karena kami laki-laki semua, pikir kami. Atau kondisi yang memang tidak cocok untuk introvert dan bau asap rokok.Lokasi kedua lapak baca di seberang gereja. (Dok. pribadi)NomadenTeguran security tadi membuat kami pindah. Tapi di spot kedua ini, kami harus bersiap pindah untuk kedua kalinya karena gerimis mulai turun rintik-rintik.Napas yang baru saja terleha harus berpacu kembali karena gerimis semakin deras. Kami memilih lokasi ketiga, di sela kios-kios yang tutup. Kami bertahan di lokasi ketiga ini lumayan lama. Bagi kami tempat ini sepi sehingga kurang cocok. Tapi mau bagaimana lagi. Buku-buku sudah telanjur ditata.Selang beberapa menit, kami didatangi lagi tapi bukan oleh security, melainkan ibu-ibu juru parkir. Ia bertanya apakah kami sedang berjualan atau tidak. Kebetulan kami menjejerkan buku persis di seberang tanda “dilarang berjualan di sini”. Tentu kami menjelaskan bahwa buku-buku ini tidak dijual dan gratis untuk dibaca. Setelah mengetahui maksud kami, juru parkir kembali ke pekerjaannya.Pengunjung PertamaBaru ada pembaca yang mengunjungi lapak baca saat kami berada di lokasi ketiga ini. Anak dari ibu juru parkir tadi datang dan bertanya pada kami dengan nada manis setengah malu, “ada buku apa aja?” tanyanya. Kami semua antusias melihat kedatangan anak kecil itu. Tapi, kami bingung menawarkan buku apa. Sebab, hampir semua buku yang kami bawa adalah buku sejarah dan novel yang tergolong serius dan berat. “Kasih buku Madilog aja”—celetukan ngawur. Untungnya, aku membawa tiga komik cerita spesial Doraemon. Dipa menarik diriku ketika aku mau menemani anak kecil itu. Dia menyarankan sebaiknya aku dan dia duduk saja, dan biar Basith yang menemani anak juru parkir itu. Karena kami berdua gondrong dan takut kami berdua dikira penculik. Sialan!Lokasi ketiga lapak baca di teras kios tutup. (Dok. pribadi)Harapan untuk Tetap LanjutTak terasa hujan telah reda. Kami memutuskan kembali lagi ke lokasi di seberang gereja. Setelah lama melapak, kami kedatangan pengunjung kedua dan terakhir. Seorang laki-laki berambut gondrong yang dikuncir, mungkin umur 30-an dan seorang perempuan berhijab yang ikut bersamanya. Awalnya, kami waspada pengunjung yang datang ini adalah seorang intel yang menyamar.Namun, kewaspadaan kami segera lenyap. Rupanya, mereka penasaran dengan buku NII Sampai JI: Salafy Jihadisme di Indonesia karya Solahudin. Sesekali saja kami membuka obrolan agar tidak mengganggu membacanya sekaligus mencairkan suasana yang sepi.Kembali ke lokasi kedua (Dok. pribadi)Menjelang jam 10 malam, gerimis mulai turun lagi. Pengunjung terakhir pun berpamit pergi kepada kami. Juga tak lupa kami mengucapkan terima kasih. Berbereslah kami dan bersiap pulang ke kos masing-masing.Kami berharap ke depannya lapak baca ini terus berlanjut. Membangun komunitas literasi di tengah zaman distraksi.