Populer: Arab Saudi Larang Impor Unggas; RI Impor Induk Ayam, Harga Murah

Wait 5 sec.

Penjual telur melayani pembeli di Pasar Terong, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (18/3). Foto: ANTARA FOTO/Arnas PaddaLarangan impor unggas dan telur oleh Arab Saudi menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Rabu (25/2). Selain itu, berita soal impor dari Amerika Serikat juga masuk deretan berita yang ramai dibaca. Berikut rangkumannya.Arab Saudi Larang Impor Unggas dan Telur dari 40 NegaraSaudi Food Drug Authority (SFDA) telah memberlakukan larangan total impor unggas dan telur dari 40 negara, termasuk Indonesia. Kebijakan ini juga mencakup larangan parsial di beberapa provinsi dan kota di 16 negara lain. Langkah ini merupakan tindakan pencegahan otoritas untuk melindungi kesehatan masyarakat dan memperkuat standar keamanan pangan di pasar domestik, sebagai bagian dari komitmen Arab Saudi memantau dinamika epidemiologi global, terutama terkait wabah flu burung yang sangat patogen.Daftar larangan ini didasarkan pada penilaian risiko dan laporan internasional yang telah dilakukan sejak 2004, dan akan terus ditinjau secara berkala. Larangan total mencakup 40 negara, sementara larangan parsial berlaku di 16 negara, seperti Australia, Amerika Serikat, dan Kanada. SFDA menjelaskan, daging unggas dan produk terkait yang telah melalui perlakuan panas atau metode pengolahan lain yang cukup untuk menghilangkan virus Newcastle akan dikecualikan, asalkan memenuhi persyaratan kesehatan dan disertai sertifikat resmi dari otoritas berwenang di negara asal.RI Impor Induk Ayam dari ASIndonesia berencana mengimpor sebanyak 580.000 ekor Grand Parent Stock (GPS) atau induk ayam dari Amerika Serikat (AS). Kesepakatan yang tertuang dalam Agreement on Reciprocal Trade (ART) ini diperkirakan bernilai USD 17 juta hingga USD 20 juta, atau sekitar Rp 286 miliar hingga Rp 336,48 miliar. Jika dikalkulasikan, harga beli induk ayam tersebut mencapai sekitar Rp 493.000 per ekor, yang terbilang jauh di bawah harga normal GPS di pasaran yang berkisar USD 60-70 atau Rp 1 juta hingga Rp 1,17 juta per ekor.Ketua Umum Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) Pardjuni, menyambut baik potensi penurunan harga ini namun juga menyoroti risiko oversupply. Kuota impor GPS pada 2026 ditetapkan sebanyak 800.000 ekor, meningkat signifikan dari 578.000 ekor pada 2025. Pardjuni menjelaskan, dampak dari peningkatan kuota impor ini biasanya terasa dua tahun kemudian. Sebagai estimasi, satu ekor GPS berpotensi menghasilkan sekitar 150 ekor Day Old Chick Final Stock (DOC FS) per minggu pada dua tahun berikutnya.Dengan importasi 578.000 GPS pada 2025, Indonesia berpotensi memproduksi lebih dari 80 juta DOC per minggu pada 2027, padahal kebutuhan pasar hanya sekitar 65 juta per minggu. Kondisi ini sudah menunjukkan potensi kelebihan pasokan bibit ayam. Apabila kuota 800.000 GPS untuk tahun 2026 benar-benar terealisasi, diperkirakan akan terjadi oversupply yang lebih parah pada tahun 2028, berpotensi menekan harga dan merugikan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sektor peternakan ayam.