Ilustrasi kereta jarak jauh. Foto: ShutterstockKereta sore itu bergerak pelan meninggalkan Banyuwangi menuju Jember. Di luar jendela, sawah-sawah seperti lembaran hijau yang dilipat senja. Saya duduk berhadapan dengan seorang laki-laki muda. Wajahnya murung, bukan murung yang dramatis, tetapi murung yang tenang seperti seseorang yang sedang menghitung sesuatu dalam dirinya sendiri.Saya membuka percakapan sederhana, basa-basi khas perjalanan. “Mau ke mana, Mas?”“Ke Jember, Mas.”“Asli mana?”“Banyuwangi Selatan, Mas.”Nada bicaranya datar, tetapi sopan. Saya kira ia mahasiswa yang sedang pulang kampung. Maka saya bertanya ringan, “Sekarang bukannya banyak kampus di Jember kuliahnya daring pas Ramadan?”Ia mengangguk. “Iya, Mas"Lalu ia berhenti sejenak, seperti memilih kata.“Tapi saya juga driver ojek online, Mas. Mumpung kuliah online, saya maksimalkan narik. Apalagi Ramadan, di Jember rame banget. Sore-sore safari takjil di sekitar kampus itu orderan nggak berhenti. Ojek jalan, makanan jalan.”Kalimat itu menghentikan pikiran saya.image generate by reve ai https://app.reve.com/share/00be76b1-cf5c-4d18-892c-0e1dc8c15b8fDi kepala saya, mahasiswa dan driver ojek online sering ditempatkan dalam dua kotak berbeda. Tetapi di hadapan saya, dua dunia itu menyatu dalam satu tubuh muda yang kurus, dengan tas pinggang kusut yang tampak sudah lama menanggung beban.“Orang tua kerja apa?” tanya saya.“Petani, Mas… lebih tepatnya buruh tani.”Ia tidak mengucapkannya dengan nada iba. Justru ada ketegasan di sana. Seolah ia sudah berdamai dengan fakta itu, tanpa harus mengutuknya.“Hanya cukup buat makan. Saya dapat beasiswa KIP, Mas. Lumayan. Tapi itu cukup buat badan saya saja. Buat makan, kos. Kalau buat pikiran dan kebutuhan kuliah, saya harus cari sendiri. Laptop, buku, print, kuota, ya dari ngojek.”Ia tersenyum kecil.“Orang tua paling kirim dua ratus ribu sebulan. Lumayan sih, Mas, ditambah bantuan pemerintah. Tapi kalau mau ikut perkembangan akademik, nggak cukup cuma buat bertahan hidup.”Saya terdiam. Ada kalimat yang menggetarkan saya "cukup buat badan saya saja, tapi tidak cukup buat pikiran saya"Sebagai Akademisi, saya sering berbicara tentang akses pendidikan, tentang afirmasi kebijakan, tentang mobilitas sosial. Tetapi di hadapan saya, teori itu menjelma konkret. Negara mungkin memberi jembatan, tetapi untuk menyeberanginya tetap dibutuhkan daya juang personal.“IPK berapa?” saya bertanya.“Alhamdulillah Masih di atas 3,5, Mas.”Jawaban itu keluar tanpa kesombongan. Hanya fakta.Di titik itu, saya merasa sedang melihat sesuatu yang jarang saya temukan, Gen Z yang tidak terjebak dalam keluhan, tetapi juga tidak hidup dalam ilusi. Ia sadar struktur tidak sepenuhnya adil, tetapi ia tidak membiarkan kesadaran itu berubah menjadi apatisme.Ia memilih bertahan.Dalam bahasa strategi, apa yang ia lakukan adalah bentuk defense adaptif. Ojek online baginya bukan sekadar pekerjaan sambilan; ia adalah mekanisme survival di era ekonomi digital. Ketika lowongan formal semakin kompetitif bahkan untuk lulusan SMA, platform daring menjadi ruang alternatif mobilitas. Ia membaca zaman dengan jernih. Ia tahu di Ramadan, konsumsi meningkat. Ia tahu safari takjil adalah momentum ekonomi. Ia memaksimalkan peluang.Itu bukan sekadar kerja. Itu kecerdasan situasional.Namun yang lebih mengejutkan saya bukanlah kegigihannya menarik ojek. Melainkan kalimat berikutnya.“Saya juga nulis, Mas.”“Nulis apa?”“Cerita pendek. Kadang novel. Masih upload di platform pihak ketiga. Belum berani ke penerbit indie atau mayor. Tapi saya suka nulis. Kalau lagi nunggu orderan, kadang saya ngetik di HP.”Di tengah dunia yang memaksanya bertahan, ia masih menyisakan ruang untuk imajinasi. Di tengah orderan makanan, ia merawat kata-kata. Di tengah algoritma aplikasi, ia menulis cerita.Saya membayangkan ia duduk di motor, menunggu notifikasi berbunyi, lalu di sela kekosongan itu membuka catatan digital dan menulis paragraf demi paragraf. Ada sesuatu yang hampir paradoksal di situ, dunia memanggilnya untuk bergerak cepat, tetapi ia tetap menyisakan waktu untuk merenung.Di satu sisi, ia adalah produk zaman 5.0 terhubung, adaptif, fleksibel. Di sisi lain, ia memelihara kedalaman yang tidak semua generasi digital miliki. saya yakin tugas tugas kampusnya juga menjadi perhatian bagi dia, karena IPK-nya sudah menggambarkan bagimana dia di kampusKetika banyak orang terjebak dalam siklus scroll tanpa henti, ia memilih menulis. Ketika banyak orang mengutuk keadaan tanpa strategi, ia menyusun pertahanan hidup. Saya melihat padanya sintesis yang jarang, daya tahan ekonomi dan kreativitas intelektual.Ramadan, yang bagi sebagian mahasiswa menjadi musim rebahan karena kuliah daring, baginya adalah musim akselerasi kerja. Tetapi menariknya, ia tidak kehilangan orientasi akademik. IPK diatas 3,5 bukan angka yang lahir dari keberuntungan. Itu hasil disiplin.Ia bukan generasi yang manja. Ia generasi yang sadar bahwa dunia tidak sedang baik-baik saja dan justru karena itu, ia memilih bergerak.Saya teringat pernyataannya yang sederhana, “Kalau cuma ngandelin bantuan, nggak cukup buat ngikutin perkembangan.” Di situ ada kesadaran epistemik. Ia tahu bahwa pendidikan bukan hanya soal hadir di kelas daring, tetapi tentang mengakses perangkat, literatur, jaringan pengetahuan. Ia tidak mau tertinggal hanya karena keadaan ekonomi.Kereta terus melaju. Senja semakin turun. Di luar, hamparan sawah berubah menjadi siluet gelap.Saya memandangnya dan berkata dalam hati, orang seperti ini akan mudah beradaptasi dengan perubahan zaman apa pun. Bukan karena ia tidak lelah, tetapi karena ia tidak menyerah pada lelah. Bukan karena ia tidak cemas, tetapi karena ia mengubah cemas menjadi tindakan. Ia tidak romantis terhadap penderitaan. Ia realistis. Dan mungkin di situlah letak harapan generasi ini.Kita sering membicarakan Gen Z sebagai generasi cemas, generasi rapuh, generasi instan. Tetapi di kursi kereta itu, saya melihat wajah lain, generasi yang keluar dari zona nyaman lebih cepat daripada generasi sebelumnya. Generasi yang tidak malu menjadi driver ojek online demi membiayai kuliahnya sendiri. Generasi yang sadar bahwa martabat tidak ditentukan oleh jenis pekerjaan, melainkan oleh integritas menjalankannya.Yang membuat saya semakin tertegun adalah fakta bahwa ia tetap menulis.Menulis adalah tindakan melawan kefanaan. Menulis adalah cara manusia berkata, “Aku ada.” Di tengah ilusi keabadian yang dikejar banyak orang melalui jabatan dan kekuasaan, ia memilih keabadian dalam bentuk cerita.Mungkin novelnya belum terbit di penerbit besar. Mungkin masih tersimpan di platform digital. Tetapi setiap kalimat yang ia tulis adalah bukti bahwa ia tidak membiarkan dunia hanya membentuknya, ia juga membentuk dunia melalui narasi.Ketika kereta mendekati Jember, saya menyadari sesuatu, generasi seperti inilah yang akan bertahan. Mereka tidak menunggu sistem sempurna untuk bergerak. Mereka bergerak di tengah sistem yang belum sempurna. di sela-sela mengobrol aku memberikan tas pinggang kepunyaanku yang melekat di atas tas ransel dengan sisipan uang 500 ribu.Tasmu kayaknya udah kusam, ini saya punya tas pinggang, kebetulan punya dua di rumah, kamu ambil saja yang ini....dengan mata berbinar, dia bilang "Matur Nuwun" mas... tentu uang sisipan itu bersembunyi tanpa harus menuntut kejelasan. Ia turun lebih dulu. Sebelum melangkah, ia berkata, “Doakan mas, semoga bisa lulus tepat waktu.”Saya mengangguk.Di dalam hati, saya tahu, bukan hanya lulus yang akan ia capai. Ia sedang membangun sesuatu yang lebih besar kedepan. Dan mungkin, di tengah dunia yang terlalu sibuk mengejar ilusi keabadian, anak muda seperti itu justru sedang belajar makna keterbatasan, bahwa hidup bukan soal seberapa besar kita terlihat, tetapi seberapa kuat kita bertahan, beradaptasi, dan tetap berkarya meski keadaan tidak ramah.“Fictional”