Foto : Aslamuddin LasawedyMALAM itu, di sebuah masjid terpencil di pinggiran kota, seorang lelaki setengah baya duduk lama sambil bertafakur. Lampu neon masjid menggantung seperti bulan buatan, dan lantai masjid memantulkan betapa heningnya malam itu. Lelaki itu, sebut saja namanya Ihsan. Ia bukanlah seorang ulama. Ia hanyalah mantan pekerja tambang yang pernah hidup dalam kebisingan mesin dan ambisi.“Ada masa,” katanya pelan, “saya salat karena takut kepada Allah SWT. Lalu ada masa, saya salat karena ingin. Dan sekarang… saya bahkan tidak tahu siapa yang membawa saya berdiri salat di sini.”Kalimat itu sederhana. Namun di dalamnya tersembunyi tiga lapisan perjalanan spiritual yang dikenal dalam tradisi tasawuf dan psikologi religius; dibisakan atau dimampukan, diperjalankan, dan diatur oleh Tuhan.Ini bukan sekadar bahasa agama. Ini adalah fenomena eksistensial yang telah diteliti oleh teolog, filsuf, dan ilmuwan perilaku selama berabad-abad.Dibisakan atau DimampukanPada tahap awal ini, manusia seperti mesin yang baru dinyalakan. Ia bergerak, tetapi masih dengan kesadaran mekanis.Ihsan mengingat masa itu dengan jelas. Bagaimana ia memaksa dirinya bangun sebelum subuh. Memaksa dirinya meninggalkan kebiasaan lama. Memaksa dirinya berubah.“Saya merasa seperti sedang menyeret diri sendiri untuk berubah,” katanya, penuh semangat.Fenomena ini dikenal dalam psikologi sebagai effortful control atau kemampuan mengarahkan diri melalui disiplin sadar. Penelitian Roy Baumeister, seorang psikolog dari Amerika Serikat, menunjukkan bahwa pada tahap awal perubahan ini, manusia sangat bergantung pada kehendak sadar (willpower), yang bersifat terbatas dan mudah melemah.Dalam perspektif spiritual Islam, kemampuan untuk taat itu sendiri bukan sepenuhnya milik manusia. Al-Ghazali, dalam Ihya Ulumuddin, menegaskan bahwa keinginan untuk mendekat kepada Tuhan adalah hidayah dalam bentuk kemampuan yang ditanamkan oleh Tuhan, dan bukan diciptakan sendiri oleh manusia.Dengan kata lain, pada tahap ini manusia merasa seolah-olah sedang mengendalikan dirinya, padahal sebenarnya ia sedang dibisakan. Ibaratnya seperti anak kecil yang belajar berjalan. Kakinya bergerak, namun ada tangan tak terlihat yang terus menuntun dan menopangnya.Saat DiperjalankanBeberapa tahun kemudian, Ihsan menyadari sesuatu yang aneh. Ia tak lagi merasa memaksa dirinya untuk salat. Ia tak lagi merasa berjuang untuk sabar“Semuanya seperti mengalir sendiri,” katanya, penuh takjub.Ini adalah tahap yang oleh para sufi disebut sebagai “diperjalankan,” di mana manusia mulai kehilangan ilusi kendali penuh atas dirinya.Psikolog agama William James, dalam karya klasiknya The Varieties of Religious Experience, menyebut fenomena ini sebagai surrendered will. Sebuah kondisi di mana individu merasa hidupnya diarahkan oleh kekuatan yang lebih besar daripada dirinya sendiri.William James menulis bahwa banyak individu religius melaporkan pengalamannya, di mana mereka tidak lagi merasa sebagai penggerak utama hidup mereka. Mereka menggambarkan dirinya sebagai “instrumen dari kehendak yang lebih tinggi.”Ihsan menggambarkannya dengan perumpamaan sederhana. “Dulu saya seperti orang yang mendayung perahu. Sekarang saya seperti perahu yang layarnya sudah terbuka, dan angin yang membawa saya.”Pada tahap ini, manusia masih memiliki identitas, namun ia tak lagi merasa sebagai pengendali arah sepenuhnya. Ia mulai mempercayai bahwa ada arus di luar dirinya yang mengendalikan hidupnya.Diatur oleh Tuhan“Sekarang,” kata Ihsan, “saya tak lagi merasa saya yang memilih. Bahkan keinginan untuk berdoa pun terasa seperti sesuatu yang diberikan.”Dalam tradisi tasawuf, ini disebut sebagai keadaan fana, atau lenyapnya ego sebagai pusat kendali. Konsep ini dijelaskan oleh Ibn Arabi sebagai kondisi di mana kehendak individu sepenuhnya selaras dengan Kehendak Ilahi.Secara ilmiah, pengalaman ini berkorelasi dengan apa yang disebut dalam neurosains sebagai ego dissolution atau kondisi di mana aktivitas bagian otak yang mengatur rasa identitas diri menurun, yang memungkinkan individu merasakan keterhubungan yang lebih luas dengan realitas di luar dirinya.Penelitian oleh neuropsikolog seperti Andrew Newberg menunjukkan bahwa pengalaman spiritual mendalam sering disertai dengan perubahan aktivitas di lobus parietal, bagian otak yang membantu membedakan antara “diri” dan “bukan diri.”Ketika aktivitas ini menurun, individu melaporkan perasaan menyatu dengan sesuatu yang lebih besar. Dalam bahasa spiritual, manusia tidak lagi merasa sebagai pelaku. Ia menjadi tempat terjadinya Kehendak.Tiga Tahap, Satu ArahPerbedaan antara ketiga tahap ini bukan pada apa yang dilakukan, melainkan pada siapa yang menjadi pusat gerak.Pada tahap dibisakan atau dimampukan, manusia masih merasa, “Aku sedang mendekat.” Pada tahap diperjalankan, manusia mulai merasa, “Aku sedang dibawa.” Pada tahap diatur Tuhan, manusia menyadari, “Aku tidak pernah berjalan sendiri.”Ihsan menatap lantai masjid. “Saya dulu pikir saya yang menemukan jalan ini,” katanya lirih. “Tapi sekarang saya sadar bahwa jalan inilah yang menemukan saya.”Di luar masjid, malam semakin hening. Namun di dalam diri Ihsan, ada sesuatu yang berubah. Ia tak lagi menjadi pengemudi atau pengendali hidupnya. Ia telah menjadi perjalanan itu sendiri. Weleh, weleh, weleh.(*)