Populer: Tarif Trump ke RI Diskon 15%; Impor Ayam GPS dari AS

Wait 5 sec.

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump tanda tangani kesepakatan tarif dagang. Foto: Dok. Instagram @sekretariat.kabinetPenyesuaian tarif resiprokal AS untuk Indonesia menjadi salah satu berita populer kumparanBISNIS sepanjang Jumat (27/2). Selain itu, rencana importasi bibit ayam Grand Parent Stock (GPS) dari AS. Untuk lebih jelasnya, berikut rangkuman berita populer tersebut:Airlangga: Tarif Trump untuk RI Didiskon Jadi 15 PersenMenteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengumumkan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia kini disesuaikan mengikuti tarif global sebesar 15 persen yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump. Angka ini naik dari sebelumnya 10 persen dan merupakan bagian dari adaptasi terhadap kebijakan perdagangan internasional. Penyesuaian ini dipastikan tidak membatalkan kesepakatan Agreement on Reciprocal Trade (ART) yang baru akan berlaku setelah 90 hari dan melalui proses ratifikasi.Indonesia sendiri telah menyesuaikan tarif bea masuknya dari 19 persen menjadi 15 persen, selaras dengan diskon yang diterima. Airlangga menegaskan tarif 0 persen untuk 1.819 komoditas andalan Indonesia tetap tidak mengalami perubahan. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong ekspansi pasar bagi sektor-sektor strategis nasional yang menjadi tulang punggung ekspor Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyatakan tarif resiprokal Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia kini mengikuti tarif global sebesar 15 persen yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump, naik dari sebelumnya 10 persen. Foto: Najma Ramadhanya/kumparanKeputusan Trump untuk menaikkan tarif global menjadi 15 persen dari semula 10 persen menyusul pembatalan tarif resiprokal sebelumnya oleh Mahkamah Agung AS. Ini menunjukkan pendekatan agresif dalam kebijakan perdagangan AS, di mana Trump berupaya mempertahankan agendanya untuk 'menghukum' negara-negara yang dinilai tidak adil dalam praktik perdagangan. Penyesuaian tarif ini merupakan respons langsung terhadap pergeseran lanskap kebijakan perdagangan AS yang berdampak pada ekonomi global.Penjelasan soal Ayam GPS yang Bakal Diimpor RI dari AS Usai Kesepakatan DagangDeretan ayam petelur di Desa Bandungrejo, Kecamatan Ngasem, Bojonegoro, Jawa Timur, Rabu (11/9/2024). Foto: Aditia Noviansyah/kumparanIndonesia sepakat untuk mengimpor sebanyak 580 ribu ekor Grand Parent Stock (GPS), atau bibit nenek ayam, dari Amerika Serikat sebagai bagian dari Agreement on Reciprocal Trade (ART). GPS merupakan tingkat teratas dalam rantai pembibitan ayam komersial, yang kemudian akan menghasilkan Parent Stock (PS) dan selanjutnya Day Old Chick (DOC) untuk ayam pedaging atau petelur. Ketergantungan impor ini disebabkan oleh status GPS sebagai kekayaan intelektual (KI) perusahaan pembibit global seperti Aviagen dan Cobb dari AS, serta Lohmann dari Jerman, yang membuat Indonesia belum mampu mengembangkannya secara mandiri.Namun, kebijakan importasi ini memicu kekhawatiran dari Gabungan Organisasi Peternak Ayam Nasional (GOPAN) akan potensi oversupply. Dengan asumsi setiap ekor GPS menghasilkan sekitar 150-155 DOC Final Stock, importasi 580 ribu ekor GPS berpotensi menyebabkan produksi DOC melebihi kebutuhan pasar nasional. Sebagai perbandingan, importasi 578 ribu ekor GPS tahun lalu diprediksi dapat menghasilkan lebih dari 80 juta DOC per minggu pada tahun 2027, jauh di atas kebutuhan sekitar 65 juta per minggu. Jika kuota 800 ribu ton GPS yang disebut pada akhir 2025 terealisasi, oversupply diperkirakan terjadi pada tahun 2028.Nilai estimasi importasi 580 ribu ekor induk ayam tersebut diperkirakan mencapai USD 17 juta hingga USD 20 juta, atau sekitar Rp 286 miliar sampai Rp 336,48 miliar (dengan kurs Rp 16.824 per dolar AS). Harga pembelian per ekor disebutkan sekitar Rp 493 ribu, yang dinilai lebih rendah dari harga pasar umum USD 60-70 per ekor. Meskipun menghadapi tantangan dalam pengembangan galur ayam lokal menuju GPS, peneliti Indonesia melalui BRIN terus berupaya menuju kemandirian dalam pembibitan unggas, meskipun proses ini membutuhkan waktu dan investasi riset yang signifikan.