Sejumlah pengemudi ojek online membawa bunga saat melakukan aksi damai Ojol di depan kawasan Monumen Nasional, Jakarta, Selasa (2/9/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparanMenteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli menyatakan para pengemudi ojek online akan kembali memperoleh Bantuan Hari Raya (BHR) pada Lebaran 2026 dengan nominal yang lebih besar.“Kemarin yang hasil (pertemuan) kita ya mereka (aplikator) komitmen, ada yang menyampaikan kami lebih sekian dari tahun lalu dan itu kita apresiasi lah,” kata Yassierli saat ditemui usai konferensi pers di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Jakarta, Jumat (27/2).Ia menyampaikan, pihaknya telah melakukan pertemuan dengan para aplikator beberapa hari sebelumnya, yang pada intinya bertujuan menyamakan persepsi sekaligus memastikan penyaluran BHR tahun ini dapat berjalan lebih baik serta menjangkau penerima manfaat yang lebih luas.Yassierli pun menyatakan dirinya bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto masih perlu berkonsultasi terlebih dahulu dengan Presiden Prabowo Subianto, yang direncanakan dapat ditemui pada awal pekan depan. Setelah itu, mereka akan melaporkan hasil pertemuan dengan pihak aplikator yang telah dilakukan beberapa hari sebelumnya.“Kita harus konsultasi dulu dengan Pak Presiden ya. Dan beliau hari Senin mungkin kita bisa temui nanti, atau hari Selasa,” lanjut Yassierli.Ia kembali menegaskan, pembahasan tersebut pada dasarnya bertujuan menyamakan persepsi sekaligus memastikan penyaluran BHR tahun ini lebih baik serta menjangkau penerima manfaat yang lebih luas.“Tunggu aja, itu kan nanti juga masing-masing aplikator kan punya kategori sendiri kan. Jadi memang sesuai dengan tahun lalu tentu kita harus fair dan memahami kondisi fleksibilitas dari bisnis ini,” jelas Yassierli.Oleh karena itu, besaran BHR akan disesuaikan dengan tingkat keaktifan pengemudi, sehingga pengemudi penuh waktu dan paruh waktu kemungkinan menerima jumlah berbeda, mengingat skema kerjanya tidak sama dengan pekerja konvensional.Yassierli melanjutkan, total pengemudi aktif diperkirakan berada di kisaran sekitar 1,2 juta hingga 1,5 juta orang berdasarkan data yang dimiliki.“Konsultasi dengan Pak Presiden dulu. Jumlah total itu sebenarnya yang aktif itu antara, mungkin kasarnya sekitar 1,2 sampai 1,5 juta orang. Kemarin berdasarkan data yang kita ini kan,” tutur Yassierli.