Ilustrasi buku yang sarat makna dan ajaran. Foto: PexelsDalam kebijaksanaan Jawa, ungkapan “aja adigang, adigung, adiguna” bukan sekadar larangan untuk bersikap sombong. Ia adalah nasihat moral yang menyentuh akar terdalam kepribadian manusia. Pitutur ini termuat dalam Serat Wulangreh—karya agung dari Pakubuwono IV—yang hingga kini tetap relevan dalam membaca watak manusia modern.Secara simbolik, ajaran ini diumpamakan melalui tiga hewan: kijang, gajah, dan ular. Ketiganya mewakili bentuk-bentuk kesombongan yang sering kali tidak kita sadari tumbuh dalam diri.Adigang (Kijang): Kesombongan atas Kepandaian dan KelincahanKijang dikenal lincah dan cepat. Ia merasa unggul karena mampu berlari kencang, menghindari bahaya dengan gesit. Dalam kehidupan manusia, “adigang” mencerminkan kesombongan atas kecerdasan, bakat, atau kemampuan intelektual. Seseorang merasa paling pintar, paling kreatif, paling inovatif.Namun, kepandaian tanpa kebijaksanaan adalah kerapuhan yang tersembunyi. Banyak orang cerdas yang gagal karena merasa tidak perlu mendengarkan orang lain. Mereka menutup ruang dialog, menganggap masukan sebagai ancaman. Padahal, kecerdasan sejati selalu bersanding dengan kerendahan hati.Di era digital, adigang bisa muncul dalam bentuk merasa paling tahu karena akses informasi luas. Mudah sekali meremehkan orang lain hanya karena perbedaan pendapat. Tanpa disadari, kepintaran berubah menjadi alat untuk merendahkan, bukan untuk mencerahkan.Adigung (Gajah): Kesombongan atas Kekuasaan dan KekuatanIlustrasi gajah yang kuat dan besar. Foto: PexelsGajah melambangkan kekuatan dan kebesaran. Tubuhnya besar, langkahnya berat, suaranya menggetarkan. Dalam kehidupan manusia, “adigung” tecermin pada mereka yang menyombongkan jabatan, kekuasaan, kekayaan, atau status sosial.Jabatan sering kali membuat seseorang merasa tak tersentuh. Kekuasaan bisa membutakan empati. Ketika seseorang merasa besar, ia mudah memandang kecil orang lain. Padahal, kekuasaan hanyalah titipan. Hari ini seseorang berada di atas, esok bisa saja berganti posisi.Sejarah dan kehidupan sehari-hari membuktikan bahwa kekuatan tanpa kebijaksanaan akan runtuh oleh kesombongannya sendiri. Pemimpin yang adigung tidak akan dicintai, hanya ditakuti. Dan ketakutan bukanlah fondasi yang kokoh untuk membangun peradaban.Adiguna (Ular): Kesombongan atas Kepintaran dan KemampuanUlar dikenal karena bisanya. Ia merasa berbahaya, ditakuti, dan memiliki kekuatan tersembunyi. Adiguna menggambarkan kesombongan atas kemampuan khusus—baik itu kecerdikan, strategi, retorika, maupun kecakapan profesional.Dalam dunia modern, adiguna bisa muncul dalam bentuk manipulasi halus: memanfaatkan kecerdasan untuk menjatuhkan pesaing, menggunakan kata-kata untuk memutarbalikkan kebenaran, atau memakai kemampuan untuk keuntungan diri semata.Ilustrasi ular yang cerdik, penuh strategi, dan siap menyerang. Foto: PexelsKemampuan adalah anugerah. Namun ketika dipakai untuk menyakiti, ia berubah menjadi racun sosial. Orang yang adiguna sering merasa paling unggul, tetapi perlahan kehilangan kepercayaan orang lain. Dan kepercayaan adalah fondasi hubungan yang tak ternilai.Pesan Moral: Rendah Hati sebagai Puncak KebijaksanaanFilosofi “aja adigang, adigung, adiguna” mengajarkan tiga hal utama: rendah hati, mawas diri, dan tidak arogan.Rendah hati bukan berarti meremehkan diri sendiri, melainkan sadar bahwa selalu ada yang lebih tahu, lebih kuat, dan lebih berpengalaman.Mawas diri berarti menyadari bahwa kelebihan fisik, harta, dan kecerdasan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan.Tidak arogan berarti menggunakan kelebihan untuk melayani, bukan untuk meninggikan diri.Dalam dunia pendidikan, ajaran ini sangat relevan. Guru yang tidak adiguna akan terus belajar dan terbuka terhadap gagasan baru. Siswa yang tidak adigang akan tetap rendah hati meski berprestasi tinggi.Pemimpin sekolah yang tidak adigung akan memimpin dengan hati, bukan dengan ego: ia akan menjadi teladan, menyenangkan, berintegritas, dan humanis.Ilustrasi kunci jadi pemimpin. Foto: ShutterstockDalam kehidupan bermasyarakat, pitutur ini menjadi pengingat bahwa martabat manusia tidak ditentukan oleh seberapa hebat ia memamerkan diri, tetapi seberapa tulus ia memberi manfaat.Relevansi di Era ModernMedia sosial sering menjadi panggung adigang, adigung, dan adiguna. Orang berlomba menunjukkan pencapaian, kekayaan, atau kecerdasan. Tidak salah untuk berprestasi, tetapi ketika prestasi menjadi alat pembanding dan kesombongan, makna keberhasilan itu sendiri menjadi dangkal.Kearifan Jawa ini mengajak kita kembali pada kesederhanaan batin. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin dalam kerendahan hatinya. Semakin besar kekuasaan, semakin luas tanggung jawabnya. Semakin tajam kecerdasan, semakin bijak penggunaannya.Pada akhirnya, hidup bukan perlombaan untuk menjadi yang paling cepat seperti kijang, paling besar seperti gajah, atau paling berbahaya seperti ular. Hidup adalah perjalanan untuk menjadi manusia yang utuh—berilmu tanpa angkuh, kuat tanpa menindas, cerdas tanpa meracuni.“Aja adigang, adigung, adiguna” adalah cermin bagi siapa pun yang ingin bertumbuh. Ia menegaskan bahwa kesombongan hanya akan menjatuhkan, sementara kerendahan hati akan meninggikan derajat manusia secara hakiki. Sebab manusia sejati bukanlah yang paling hebat, melainkan yang paling mampu mengendalikan dirinya.