Ilustrasi mengantuk saat puasa. Foto: Mzynasx/ShutterstockRamadan selalu datang dengan dua suasana yang berjalan beriringan. Di satu sisi, mimbar-mimbar mengingatkan kita tentang sabar, pengendalian diri, dan menahan hawa nafsu. Di sisi lain, pasar justru seperti sedang latihan sprint. Lapak takjil menjamur, harga beberapa bahan pangan pelan-pelan naik, dan aplikasi pesan-antar makanan mendadak lebih sibuk dari hari biasa.Seolah-olah, ketika manusia diminta menahan diri, pasar justru bersiap menyambut ledakan permintaan.Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Setiap tahun, pola yang sama berulang dengan disiplin yang hampir mengagumkan. Menjelang Ramadan, permintaan bahan pokok meningkat. Memasuki minggu pertama puasa, pasar takjil meledak. Mendekati Idulfitri, konsumsi rumah tangga mencapai puncaknya.Dalam kacamata ekonomi mikro, hukum permintaan mengatakan sesuatu yang sederhana: ketika keinginan membeli meningkat (dengan faktor lain tetap), permintaan akan naik dan harga cenderung mengikuti. Ramadhan menyediakan kondisi yang hampir ideal untuk mekanisme ini bekerja.Pertama, ada faktor lapar kolektif. Tidak seperti hari biasa ketika pola makan tersebar, bulan puasa menciptakan konsentrasi konsumsi pada waktu yang hampir bersamaan—terutama menjelang berbuka. Permintaan makanan siap saji melonjak dalam jendela waktu yang sempit.Kedua, ada faktor psikologis yang sering diremehkan. Ekonomi perilaku telah lama menjelaskan bahwa kondisi lapar membuat manusia lebih impulsif dalam mengambil keputusan konsumsi. Otak kita memberi bobot lebih besar pada kepuasan saat ini—fenomena yang dikenal sebagai present bias. Dalam bahasa sederhana: orang lapar cenderung membeli lebih banyak dari yang sebenarnya ia butuhkan.Itulah mengapa niat awal “beli secukupnya” sering berakhir dengan kantong plastik yang secara volume cukup untuk buka puasa tiga gelombang.Pasar, tentu saja, bukan pemain yang naif. Ia membaca pola ini dengan sangat cepat. Begitu sinyal permintaan meningkat, penawaran menyesuaikan. Pedagang takjil bermunculan. Menu berbuka semakin variatif. Platform digital penuh dengan promo berbuka. Dalam banyak kasus, harga juga ikut bergerak naik—bukan selalu karena niat jahat, tetapi karena hukum supply–demand memang sedang bekerja.Dari sudut pandang ekonomi, ini rasional. Dari sudut pandang dompet, ini kadang emosional.Menjelang Idulfitri, cerita menjadi lebih menarik lagi. Tunjangan Hari Raya (THR) mulai cair, dan teori konsumsi Keynesian kembali menemukan panggungnya. Ketika pendapatan disposable meningkat, konsumsi rumah tangga ikut terdorong naik. Kombinasi antara momentum religius, tradisi sosial, dan tambahan likuiditas menciptakan badai konsumsi musiman yang hampir selalu terulang setiap tahun.Namun di tengah semua rasionalitas ekonomi itu, Ramadan diam-diam menyodorkan pertanyaan yang lebih reflektif.Jika puasa adalah latihan menahan diri, mengapa pola konsumsi kita justru sering tampak seperti sedang mengejar ketertinggalan? Jika lapar seharusnya mendidik kesederhanaan, mengapa keranjang belanja justru semakin ekspansif?Tentu, meningkatnya aktivitas pasar selama Ramadan tidak sepenuhnya problematis. Bagi banyak pelaku UMKM—terutama pedagang takjil musiman—bulan puasa adalah momentum ekonomi yang sangat berarti. Dalam beberapa jam menjelang Maghrib, omzet bisa menopang kebutuhan keluarga berhari-hari. Dari perspektif ini, Ramadan justru menghidupkan ekonomi rakyat kecil dengan cara yang sangat organik.Yang menjadi persoalan bukanlah pasar yang berger—itu memang tugas alaminya. Yang patut kita renungkan adalah posisi kita sebagai konsumen di dalam pusaran itu.Apakah kita sedang membuat keputusan yang sadar, atau sekadar mengikuti arus lapar yang dibungkus aroma gorengan?Ramadan mungkin tidak pernah bermaksud mematikan aktivitas ekonomi. Tetapi ia jelas mengajak kita untuk lebih sadar terhadap dorongan-dorongan yang biasanya kita anggap sepele. Bahwa di balik setiap plastik takjil yang kita bawa pulang, ada kombinasi antara kebutuhan nyata, impuls sesaat, dan—kalau mau jujur—sedikit drama perut kosong.Pada akhirnya, puasa memang mengajarkan sabar. Tapi pasar, dengan caranya yang dingin dan konsisten, terus mengajarkan satu hal lain: permintaan tidak pernah benar-benar tidur.Pertanyaannya tinggal satu.Yang sedang kita latih selama Ramadan ini—perut kita, atau kesadaran kita sebagai konsumen?