Ilustrasi dari Gemini 3 AI.Menurut perspektif linguistik, “puitis” merupakan bentuk adjektiva (kata sifat). Ia adalah adjektiva denominal atau adjektiva yang diturunkan dari nomina (kata benda) “puisi”. Ada proses yang dinamai afiksasi derivasional atau derivasi. Dalam hal ini, perubahan kelas kata “puisi” dari semula nomina, dengan penambahan sufiks (akhiran) “-is”, kemudian menjadi “puitis” (adjektiva).Sangat mungkin pula proses derivasi ini mengikuti sumber serapan nomina “puisi” dari kata bahasa Belanda poëzie (/po.eːˈzi/ atau /po.əˈzi/) dan kemudian terjadi proses adjektivasi menjadi “puitis” dari kata poëtisch (/po.eːˈtis/ atau /ˌpoːˈeː.tis/). Bila pandangan ini yang menjadi acuan pegangan, maka bahasa Indonesia cenderung mengikuti pola perubahan kata dari bahasa asalnya ketika proses penyerapan berlangsung. Terjadi adanya adaptasi ejaan dalam kasus morfologis ini.Proses adjektivasi, perubahan nomina “puisi” menjadi adjektiva “puitis”, mengulurkan tujuan untuk menyuguhkan deskripsi terhadap segala hal, seperti kalimat, suasana, ucapan, atau lukisan yang mempunyai keindahan, rima, dan kedalaman emosi sebagaimana laiknya karakteristik puisi.Dengan demikian sebagai adjektiva, “puitis” memiliki tugas memberikan keterangan atau menyifati nomina. Kalimat puitis merujuk pada intensi puitis yang menyifati kalimat. Suasana puitis mengacu pada intensi puitis yang membalutkan informasi kualitas pada nomina abstrak berupa suasana. Ucapan puitis menunjuk ke intensi untuk menyifati wujud nomina ucapan atau ujaran. Dan, lukisan puitis tidak pelak lagi mengarah pada intensi untuk meneguhkan sifat kualitas dari nomina lukisan itu. Begitu seterusnya.Analogi lain yang simpel, bila seni adalah nomina, maka artistik adalah adjektiva. Dari sini dapat muncul premis, bila puisi adalah nomina, maka puitis adalah adjektiva. Dengan demikian, tatkala kita menyebut sesuatu itu “puitis”, berarti kita sedang melekatkan atribut sifat pada benda atau hal tersebut ternyata mengandung karakter puisi. Mempunyai sifat indah, makna dalam, dan diksi yang merepresentasikan perasaan.Di samping “puitis” (adjektiva) ada “puitika”. Tidak jarang terjadi ketertukaran pemahaman konsep pengertian antarkeduanya. Atau, bahkan menganggap keduanya sebagai hanya sekadar variasi ejaan dan memiliki makna serupa. Nah, “puitika” berada di dalam ranah kelas kata nomina sebagaimana “puisi”. Hanya perbedaannya, puisi merujuk pada salah satu genre karya sastra, sedangkan puitika merupakan ilmu atau teori tentang seni menciptakan karya sastra dan puisi salah satu genrenya.Kata “puitika” berakar dari karya filsuf Yunani Aristoteles (384 - 322 Sebelum Masehi) yang bertajuk Peri poietikês (Περὶ ποιητικῆς) atau dalam versi Inggris Poetics. Sebuah risalah sastra kuno yang ditulis sekitar 335 Sebelum Masehi. Berisi analisis drama dan puisi, terutama tragedi, sebagai mimesis (peniruan) aksi manusia dalam upaya menggapai katarsis (kelegaan emosional setelah tidak lagi terbebat pertikaian batin).Jembatan Bahasa - PerasaanPada awalnya adjektiva “puitis” adalah jembatan yang mengantarai keindahan bahasa dan kedalaman perasaan. Adjektiva “puitis” adalah atribut yang menyebabkan hal biasa menjadi luar biasa serta memberikan suasana yang lebih hidup. Metafora jembatan ini mendeskripsikan fungsinya sebagai penghubung dua sisi, yakni bahasa (bentuk ekspresi) dan perasaan (substansi isi)Bahasa merupakan alat pengangkut. Tanpa sifat puitis, bahasa cenderung fungsional semata. Sempadan dapat dipahami. Contoh, ada kalimat dengan bahasa fungsional, “Aku mencintaimu sampai mati, sayangku”. Dengan sentuhan sifat yang puitis, performa ekspresinya dapat tampil lebih cantik misalnya, “Kubenamkan jiwaku ke dalam pelukan jiwamu, sayangku, hingga nanti ketika awal dan akhir menyatu dalam rengkuh keabadian”. Ada jamahan personifikasi yang kuat, dan keselarasan rima yang terbentuk dari dominasi bunyi vokal /a/ dan /u/.Puitis merupakan salah satu fungsi bahasa, menurut teori Roman Jakobson (11 Oktober 1896 - 18 Juli 1982). Dalam linguistik, terdapat fungsi puitis (poetic function). Hal ini terjadi manakala fokus komunikasi hanya terpaku pada “apa” pesan yang tersampaikan dan bukan pada “bagaimana” penyusunan pesan itu sehingga menarik perhatian khalayak audiens.Ambil contoh, jargon politik “Veni, Vidi, Vici” (Saya Datang, Saya Melihat, Saya Menaklukkan), menjadi puitis dengan permainan bunyi yang begitu harmonis ketika tiap kata berawal dengan bunyi konsonan /v/ dan berakhir dengan bunyi vokal /i/. Potensi jargon politik ini membekas di ingatan dapat terawat waktu yang lebih lama. Meskipun, bisa jadi dewasa ini, jargon tersebut sudah semakin kehilangan relevansinya dengan selera zaman, sudah terbilang agak klise.Setelah ada bahasa yang memenuhi fungsi puitis, tentu perlu keseimbangan berupa kedalaman perasaan. Adapun perasaan kerap kali abstrak, rumit, dan sulit memperoleh definisi dengan kata-kata yang biasa. Ungkapan kerinduan, kehampaan, kesedihan tidak jarang membuat penjelasan dengan logika yang datar akan menemui kesulitan untuk “menyeberangkan” kepada pihak lain.Pada kondisi inilah adjektiva “puitis” mengoperasikan sentuhannya. Ia menjadi “jembatan” yang menyeberangkan perasaan abstrak ke dunia nyata sehingga orang lain bisa memahaminya dengan nyanan tatkala membaca atau mendengarkannya. Sebagai cara untuk menyederhanakan konsep perasaan yang rumit, majas metafora bisa mendapatkan realisasi pemakaian.Misalnya dari kata “kesedihan” yang memerlukan penjelasan rumit secara medis atau psikologis, akan terasa lebih mudah tercerna dengan ungkapan puitis metaforis “langit yang runtuh ke dalam dada”. Dengan cara ini, pihak lain akan dapat memahami dari ungkapan puitis yang berselimut metafora “langit”, tentang kandungan beban berat yang tengah mengimpit perasaan sang penutur atau penulisnya.Tanpa adanya jembatan “puitis”, bisa jadi kecamuk perasaan itu hanya akan menyesaki rongga dada. Ada ungkapan, puitis memberi nama, warna, dan bunyi pada perasaan sesak tersebut melalui kata-kata indah. Maksudnya, mengubah perasaan sesak di dada, bisa berupa kesedihan atau kecemasan yang abstrak dan menyakitkan hati menjadi ungkapan yang membebaskan dan sekaligus estetis.Misalnya dalam kasus menyatakan perasaan cinta kepada sang dambaan hati. Bila seseorang mengungkapkannya tanpa jembatan puitis, maka hasilnya tidak lebih dari pernyataan logis dan datar, seperti “Aku suka kamu”. Namun, dengan jembatan puitis akan menghadirkan kalimat yang kuyup dengan rasa syukur akan temuan rasa cinta itu. Misalnya lewat untaian kata “Kehadiranmu adalah titik ketika seluruh pencarianku berhenti”.Bila perasaan itu pulau terpencil dan bahasa merupakan daratan utama, maka “puitis” dapat memperoleh pengibaratan sebagai jembatan yang menarik minat orang-orang yang tinggal di daratan utama untuk berbondong datang berkunjung dan memahami isi yang terdapat di pulau terpencil itu.Tanpa adanya jembatan puitis, perasaan seseorang tidak jarang terisolasi lantaran tidak menemukan kata-kata indah yang membebaskannya dari telikung perasaan. Atau setidaknya, tidak terucapkan secara maksimal sebagai kata hati yang seharusnya terhidang penuh pesona “rayuan” untuk menelusuri lebih lanjut dengan adanya intervensi kekuatan puitis.Perluasan MaknaSementara iu, berdasarkan logika bahasa yang paling sederhana. Bermula dari “puisi”, sebagai nomina, ia merujuk pada wujudnya, yaitu karya sastra. Dengan ciri khas pemadatan kenyataan, pemilihan satu atau dua citraan yang paling dekat sebagai representasi suasana perasaan. Ekspresinya fokus pada substansi emosional dan filosofis.Kemudian ada proses adjektivasi, sehingga hadir bentukan “puitis”, merujuk pada sifat atau kualitas yang memiliki keserupaan dengan puisi. Akan tetapi, ia bukan puisi itu sendiri atau semacam penggalan dari puisi. Dan, memang dalam kenyataan aktivitas bahasa sehari-hari, penerapan adjektiva “puitis” telah mengalami perluasan makna.Puitis tidak lagi hanya menjadi milik dunia sastra. Akan tetapi, telah pula melekat sebagai atribut estetik untuk menamai segala sesuatu yang menerobos hingga ke ceruk terdalam dari perasaan seseorang. Untuk segala sesuatu yang dapat membangkitkan imajinasi yang kaya. Untuk segala sesuatu yang menghadiahkan keindahan secara visual atau auditori.Unsur utama dari sesuatu yang puitis adalah membangkitkan luapan emosi, bisa romantis bisa melankoli. Karena, sesuatu yang puitis pastilah senantiasa menyentuh hati. Ada ungkapan metaforis yang berperan sebagai simbol. Ada kelindan kata-kata yang terseleksi sebagai diksi yang estetik. Ada jarak atau ruang imajinasi bagi khalayak audiens untuk menikmati dengan kemerdekaan interpretasi masing-masing.Bisa jadi ia hanya kalimat yang menyerupai ekspresi puisi. Kalimat puitis. Ada penggunaan bahasa yang tidak lugas, mengarah ke makna konotatif, padat kandungan maksud, ada sentuhan rima (persamaan bunyi), dan memainkan majas yang relevan. Misalnya, pernyataan “Aku sangat merindukanmu” akan naik muruah kepuitisannya sebagai ungkapan hati manakala mengalami modifikasi stilistik menjadi “Rindu ini merambat pelan, layaknya embun yang memeluk daun di pagi buta”.Kalimat ini menjadi puitis saat ada pemakaian majas personifikasi (embun memeluk) dan pemanfaatan ungkapan “rindu itu merambat pelan” sebagai perpaduan citraan (pengimajian) kinestetik (gerak) dan citraan perasaan/mental. Serta, memancing pula citraan visual melalui penanda kala tak takrif (indefinite time marker) “di pagi buta”. Tidak menunjukkan waktu yang spesifik.Kalimat puitis di atas agaknya mendudah tema romantis atau kerinduan. Contoh lainnya (kali ini dari sisi yang merasa dirindui). Sang gadis merasai di palung hatinya yang terdalam, bahwa rindu sang pemuda kepadanya adalah "sesuatu banget". Dan, selanjutnya hadirlah di chat WhatsApp jaringan pribadi sang arjuna: “Rindumu adalah kopi pagi; pahit tapi membuatku terjaga sepanjang hari”.Atau “Jarak hanyalah jeda, agar pertemuan kita terasa seperti keajaiban” untuk menandai dinamika dan romantika long distance relationship. Bisa pula dengan sedikit permainan metafora, seperti “Matamu adalah pelabuhan tenang di tengah badai pikiranku” dan “Kita adalah dua kutub berbeda, menyatu dengan paksaan semesta bernama cinta”.Ilustrasi dari Gemini 3 AI.Kalimat puitis yang mengusung tema kehidupan atau motivasi, terkadang memainkan metafora seperti tampak dalam kutipan “Jadilah seperti akar, tidak terlihat tetapi diam-diam menguatkan”. Dan, begitu berlimpah penggunaan majas personifikasi, seperti “semesta menulis”, serta metafora “kertas hatimu” dalam rangkaian kalimat puitis “Luka hati adalah cara semesta menuliskan kisah kekuatan di kertas hatimu ”.Majas personifikasi tampak pula pada klausa “bintang menemukan” sebagaimana terangkai dalam kalimat puitis “Jangan takut pada malam, karena di sanalah bintang menemukan alasan untuk bersinar”. Begitu pula ketika waktu berlaku seperti orang bijak, mengajari akan makna indah suatu kebersamaan. “Waktu tidak pernah menyembuhkan, ia hanya mengajari kita cara berjalan bersama kenangan”.Majas personifikasi kembali menampakkan diri dalam kalimat puitis yang mengangkat tema hakikat kefanaan. Senja sebagai entitas abstrak dalam konsep sastra. Ia berperilaku seperti manusia, orang bijak, yang mengajarkan dimensi filosofi tentang kehidupan. “Senja mengajarkan, bahwa yang indah tidak harus bertahan lama”.Lalu nomina abstrak “kesunyian malam” berperilaku seperti makhluk hidup (termasuk binatang), yaitu “merayap di dinding kamar” yang mengingatkan kita pada binatang cicak dan lagu anak-anak legendaris “Cicak-Cicak di Dinding” ciptaan Abdullah Totong (A.T.) Mahmud (3 Februari 1930 - 6 Juli 2010). Kalimat puitis itu tersusun begini: “Kesunyian malam ini merayap di dinding kamar, membawa aroma kenangan yang perlahan menguap”.Sebagai catatan, di samping personifikasi, ada majas antropomorfisme dan zoomorfisme. Majas antropomorfisme memberi sifat, emosi, perilaku manusia kepada hewan, benda mati, atau konsep abstrak. Majas ini lebih ekstrem daripada personifikasi, karena menyebabkan benda/hewan/alam seolah memiliki kesadaran seperti manusia.Coba simak kalimat “Jam dinding di kamarku berteriak memintaku segera bangun” (benda mati memiliki kesadaran untuk mengingatkan manusia bahwa ada kegiatan yang mesti dia lakukan pada suatu pagi). Lalu “Sang Singa menggelengkan kepala menolak usulan serigala” (hewan memiliki kesadaran berpikir untuk merespons usulan; biasanya ada dalam fabel yang mengetengahkan karakter-karakter binatang berperilaku seperti manusia).Adapun majas zoomorfisme, merupakan istilah oposisi dari antropomorfisme. Ia memberikan sifat atau perilaku hewan kepada manusia atau benda. Contoh “Saking laparnya, lelaki itu menerkam makanan itu seperti seekor harimau” (manusia yang mendapatkan deskripsi berperilaku seperti harimau, melakukan tindakan menerkam, bisa jadi semakna dengan menyergap).“Pencuri itu merayap di lantai untuk menghindari pandangan mata aparat keamanan” (manusia melakukan tindakan seperti binatang melata, yaitu merayap), “Suaranya melengking seperti burung elang” (manusia yang memiliki suara nyaring dan keras seperti burung elang), “Polisi memburu penjahat itu sampai ke ujung kota” (sasaran tindakan berburu yang lebih lazim adalah hewan).Sementara itu, ada pula majas metafora dalam kalimat puitis yang menengadahkan harapannya akan curahan asmara. Ada upaya identifikasi metaforis dengan awan. Mengawasi diam-diam di atas langit dengan tatapan penuh cinta. Ini misalnya tertuang dalam kalimat: “Aku ingin menjadi awan, yang mencintaimu secara diam-diam dari atas sana, tanpa perlu sadari keberadaannya”.Selebihnya ada kalimat puitis “Bahasa hatimu terlalu sunyi untuk dimengerti oleh telinga, namun cukup nyaring untuk didengar oleh jiwa”. Ada tiga majas yang dapat dikenali. Pertama, personifikasi, jiwa sebagai nomina abstrak yang memiliki telinga seperti manusia untuk mendengarkan. Kedua, paradoks, mempertemukan kata “sunyi” yang tidak terdengar versus “nyaring” yang sangat terdengar dalam satu keutuhan makna. Ketiga, metafora langsung (tanpa konjungsi atau kata hubung) untuk isyarat perasaan (bahasa hati).Suasana PuitisPada realitas kehidupan keseharian konsep suasana puitis lebih mengacu pada kepekaan rasa terhadap momen sederhana. Bisa jadi momen tersebut merupakan bagian yang karib dengan rutinitas. Akan tetapi, ada momen yang terkategori sahaja menjadi terasa mempunyai kandungan makna yang lebih mendalam. Atau ada nilai estetika yang tak dapat termungkiri kehadirannya.Ilustrasi dari Gemini 3 AI.Suasana puitis itu dapat saja muncul tatkala seseorang memberi jeda pada dirinya sendiri, untuk sekadar berhenti sejenak atau melihat sesuatu yang sebenarnya biasa saja. Akan tetapi, sesuatu yang biasa saja itu mampu dengan nyaman menyapa hati seseorang itu sehingga menimbulkan keterasaan yang begitu menyentuhkan warna pembeda.Manakala seseorang melihat rintik hujan dari kaca jendela rumahnya pada suatu sore yang hening. Dia menganggapnya bukan merupakan “hambatan perjalanan”, melainkan sebagai “irama alam yang menenangkan”. Dalam situasi ini, seseorang yang mampu memandang sisi yang menyenangkan dari suatu momen sederhana (rintik hujan turun dari langit), itu berarti yang bersangkutan tengah berada dalam suasana puitis.Di samping itu, suasana puitis juga dapat terbentuk karena adanya keterhubungan emosional (resonansi). Hal itu terjadi tatkala kondisi perasaan seseorang menemukan relasi keselarasan dengan lingkungan tempat dirinya tengah berada.Misalnya ada seseorang sedang duduk sendirian di sebuah kedai kopi yang kekinian, dan ketika melihat banyak orang berlalu-lalang di trotoar yang hanya beberapa meter di depan kedai kopi iti, dia merasakan adanya kedamaian yang mengguyur perasaannya. Dia merasa tak lagi sendirian. Dia merasa berada dalam rangkulan suasana puitis di tengah-tengah kebersamaan dengan banyak orang.Suasana puitis dapat pula tercipta melalui kehadiran penuh (mindfulness). Saat seseorang benar-benar memberada di dalam suatu momen (living in the moment) tanpa tersita perhatiannya terhadap kemolekan fitur-fitur yang muncul di telepon pintar atau tengah terlanda keriuhan rasa khawatir akan kehidupan yang bakal terjadi di masa mendatang.Misalnya, seseorang menikmati aroma tanah setelah guyuran hujan bertubi-tubi menimpa dari langit pada rentang belasan jam. Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan (Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, 2025) menyebutkan lema “pe.tri.kor” (aroma khas yang keluar saat air hujan membasahi tanah yang kering; angu). Atau, manakala seseorang menikmati cahaya matahari senja masuk lewat celah gorden.Suasana puitis juga dapat tergapai melalui romantisasi kehidupan. Di media sosial kerap menerima sebutan main character energy. Cara yang menjadi pilihan seseorang untuk memandang kehidupannya sendiri seperti film yang indah. Tiap kejadian atau peristiwa yang menghampiri, dalam rengkuh pemikiran seseorang itu, mempunyai keindahan visual atau emosional tersendiri. Dan, dia sangat menikmati satu per satu peristiwa kehidupan yang menghampirinya dan sering menimbulkan ejakulasi sensasi.Ucapan PuitisDalam kehidupan sehari-hari, terkadang sesekali kita memerlukan ucapan puitis. Tujuannya untuk menjadikan aktivitas berkomunikasi memiliki warna yang lebih bermakna, mengemas pernyataan sehingga menyebabkannya lebih menyentuh dimensi perasaan, dan memberikan kemasan perspektif dengan daya tarik tersendiri untuk suatu situasi yang sesungguhnya biasa saja. Adapun bentuk ucapan puitis itu tidak harus terhidang panjang. Relatif cukup singkat tapi padat akan makna.Ilustrasi dari Gemini 3 AI.Dalam konteks yang romantis dan penuh berbungakan kasih sayang, ucapan puitis itu untuk lebih mempererat relasi asmara, mengapresiasi hubungan yang telah lama terjalin, atau mengekspresikan perasaan rindu yang menghujani hati. Misalnya seorang pemuda mengirim pesan via chat jaringan pribadi suatu platform kepada sang gadis idaman hati pada suatu sore yang cerah “Aku mencintaimu, seperti aku mencintai sore; tenang, hangat, dan selalu kembali”.Untuk mereka yang terlibat long distance relationship, dapat mengirimkan chat ucapan puitis, “Jarak hanyalah jeda, agar rindu bisa beristirahat sejenak sebelum bertemu kembali”. Atau, ucapan puitis itu bisa berfungsi sebagai kepsen untuk unggahan foto tercantik atau tertampan dari sang juwita hati. “Di antara keramaian dunia, mataku selalu menemukan keteduhan pada dirimu”.Dalam konteks motivasi dan penyemangat hidup, ucapan puitis dapat berfungsi untuk memberikan ketenangan bagi diri sendiri. Sebagai alarm pengingat diri (self-reminder), seperti untuk selalu memupuk rasa bersyukur, lewat ucapan puitis yang tertulis di dinding kamar dengan bentuk font indah: “Bahagia bukan karena memiliki banyak hal, tapi karena merasa cukup dengan apa yang ada”.Selain itu, dapat pula ucapan puitis dalam konteks untuk memberi semangat kepada teman yang tengah berada dalam rundungan nestapa nestapa atau saat terlibas masalah yang pelik. Misalnya “Jangan biarkan luka kecil menutupi keindahan hidup yang sedemikian luas”, untuk menghibur teman yang sedang sedih atau kecewa.Atau, ucapan puitis untuk memotivasi diri ataupun teman-teman dalam satu grup WhatsApp (biasanya dengan imbuhan ilustrasi yang relevan) dengan unggahan “Setiap pagi adalah halaman baru dalam buku kehidupan. Tuliskan kisah yang indah pagi ini”. Atau lagi motivasi untuk bekerja dengan keras tanpa harus tergoda bujukan untuk memamerkannya. Ucapan puitis yang relevan adalah “Jadilah seperti akar, tak terlihat tapi menguatkan”.Ucapan puitis bisa pula memperoleh ranah penerapan di media sosial untuk sarana refleksi, renungan kehidupan. Misalnya unggahan pada suatu pagi yang mengalirkan kesadaran bahwa di balik kesulitan itu ada sisi yang tidak seutuhnya pahit, kalau saja kita cerdik memainkan strategi yang tepat. “Kopi pagi ini mengajariku, pahit bisa dinikmati jika kita tahu cara menghargai aromanya”.Sebagai sarana untuk memperindah performa suatu unggahan foto di Instagram misalnya, baik dalam kapasitasnya untuk kepsen maupun memotivasi agar sang sahabat dapat menerima realitas yang tengah menimpa dirinya, seseorang dapat menge-share ucapan puitis “Hujan adalah cara langit memeluk bumi yang lelah”. Di belakang hujan sebagai representasi simbolik dari hal yang menyebabkan langkah perjalanan kehidupan sedikit menjadi kurang lancar, ada pula tersedia rahasia hikmah yang memperelok dinamika proses suatu pencapaian.Ucapan puitis dapat pula tersampaikan dalam konteks perpisahan. Seperti mengucapkan selamat tinggal kepada teman sekerja yang mendapatkan mutasi atau promosi ke kantor cabang yang jauh. Misalnya dengan sentuhan kalimat “Kita tidak benar-benar berpisah, hanya mengambil jalan berbeda untuk cerita yang lebih luas”.Bagaimanapun, penggunaan ucapan puitis dalam kehidupan sehari-hari dapat mengantarkan suasana momen kehidupan yang biasa-biasa saja menjelma menjadi penuh kesan dan makna. Tentu saja butuh kesesuaian dengan konteks, yaitu menghindari ucapan puitis berat dalam situasi yang memerlukan komunikasi cepat dan tegas. Ada ketulusan yang mesti menyertai ekspresi. Dan, memastikan kata-kata puitis itu benar-benar merepresentasikan perasaan. Singkat dan tidak bertele-tele.Sebagai catatan tambahan, pada era media sosial ini, ada sementara pihak yang memunculkan istilah “kata-kata senja”. Mereka mengalamatkan istilah tersebut untuk kutipan, yang berdasarkan pandangan mereka terlalu berlebihan atau klise. Di sini hadir realitas, bahwa sifat puitis itu juga tidak sepi dari subjektivitas anak zaman. Ungkapan puitis yang bagi satu generasi atau kelompok masih berada dalam radius normal. Bisa saja menjadi begitu too much atau too cliche untuk generasi atau kelompok yang lain.Lukisan PuitisIlustrasi dari Gemini 3 AI.Lukisan memenuhi kriteria puitis manakala secara visual yang tersaji melewati dari sekadar batas representasi fisik objek. Akan tetapi, lukisan puitis itu mampu menggugah emosi, suasana hati yang menggiring pada kepekaan seni, atau pemikiran secara mendalam seperti kata-kata dalam puisi. Lukisan puitis memiliki sifat sugestif, memakai simbolisme, fokus terhadap keindahan yang tersirat dan bukan pada narasi yang tersurat.Di sini bermain esensi fungsinya sebagai penyampai emosi dan suasana (stimmung). Lukisan puitis menggelar pemungkinan bagi khalayak penikmat menangkap perasaan sang pelukis yang tengah berada dalam belitan kecamuk batin tertentu, entah kemelankolian, entah kerinduan, entah kesenduan. Warna dan pencahayaan pun sedemikian dimainkan secara emosional. Tidak sebatas memindahkan potret realitas secara mentah.Lukisan puitis mengetengahkan objek yang bertindak sebagai simbol dengan kandungan makna lebih dalam. Dan, menghadirkan cipta lapisan makna di belakang visual yang tampak. Dengan perkataan lain, lukisan puitis tidak mempersembahkan seluruh detail secara harfiah. Sebaliknya, tersedia ruang imajinasi khalayak untuk membangun tafsiran personal atau “membaca di antara baris”.Pengaturan komposisi bentuk dan warna yang seimbang memberikan aliran keindahan yang menyusuri seluruh konstruksi lukisan puitis itu. Ada gambaran mengenai transisi waktu, kenangan, atau suasana mimpi (surealisme) yang menegaskan kehadiran lukisan puitis itu seperti cerita yang tidak mengenal makna selesai.Oleh karena itu, sungguh tepat apa yang dikatakan sementara orang, lukisan puitis adalah puisi yang dilihat. Ia menjadi penghubung antara seni rupa dan sastra. Menjelmakan kemukjizatan warna menjadi adonan perasaan yang begitu liat seolah memberikan narasi yang tidak berkesudahan.Lukisan puitis juga memicu pikiran yang mendalam. Ia melampaui apa yang tertangkap oleh indra penglihatan. Inilah sesungguhnya momen refleksi ketika pikiran dan perasaan betkolaborasi. Adapun pikiran mendalam yang hadir saat seseorang menikmati lukisan puitis, bisa berupa nostalgia dan memori terpendam.Lukisan puitis tidak jarang memantik rasa melankoli yang indah, seperti manakala seorang penikmat mampu mencumbui suasana sore yang temaram, guyuran rintik hujan, atau lanskap sepi. Dalam dialog seni yang terjadi ini, bisa jadi khalayak penikmat secara tiba-tiba tersulut memori khusus di masa lalu, aroma tertentu, orang yang telah lama tidak bertemu. Pemikiran yang tiba-tiba menyeruak di benak, mungkin saja misalnya tempat dan rumah di lukisan itu, mirip sekali dengan apa yang pernah si penikmat kunjungi di suatu tempat beberapa belas tahun silam.Lukisan puitis juga dapat menimbulkan pertanyaan eksistensial mengenai kesendirian (solitude). Pelukis dalam karyanya kerap menghadirkan subjek manusia, pohon, atau objek tunggal dalam ruang yang luas. Konten seni lukis yang demikian kadang serupa dengan ajakan untuk mengontemplasikan posisi manusia di alam semesta yang sangat luas. Sering muncul pemikiran, betapa kesendirian itu menusukkan rasa takut ke dalam diri. Atau, kesendirian itu adalah anugerah Tuhan juga bagi kita untuk lebih merasa dekat dengan-Nya. Bukankah Tuhan itu lebih dekat dengan urat leher kita?Lukisan puitis bisa pula menorehkan kekaguman pada keindahan yang fana (ephemerality). Penyadaran akan sifat sementara keindahan di dunia ini dapat muncul dari lukisan yang mengawetkan momen singkat, seperti saat cahaya matahari kian meredup, atau kelopak bunga layu yang jatuh ke tanah. Ini mengundang pemikiran yang menginjeksikan kesadaran, bahwa hidup ini begitu cepat, tidak ubahnya dengan goresan warna yang mampir di kanvas.Lukisan puitis menyediakan diri dengan sepenuh utuh menjadi ajang untuk mengungkapkan empati dan proyeksi diri. Khalayak penikmat seni bisa jadi melihat diri mereka sendiri dalam sentuhan goresan warna yang tersaji. Lukisan itu bisa menjadi cermin emosi yang belum tentu dapat memperoleh wujud ekspresi maksimal apabila terucapkan dengan kata-kata. Goresan kuas yang tampak kacau bisa jadi adalah refleksi perasaan si pelukis pada saat menuangkan proses kreatifnya.Lukisan puitis pun biasanya mampu menjalinkan dialog spiritual antara sang pelukis dan khalayak penikmat. Ada kalanya timbul pemikiran di benak para pemerhati karya lukis tentang segala hal ihwal mengenai emosi dan maksud yang tertuang dalam komposisi bentuk dan warna. Jadi, terdapat semacam koneksi batin antara jiwa sang pelukis dan jiwa khalayak penikmat. Sambil menyorongkan pertanyaan, apa yang tengah berada dalam genggam pikiran sang pelukis ketika memberikan sentuhan warna biru yang sedih itu misalnya.Lukisan puitis mendorong keinginan khalayak penikmat untuk “masuk” ke dalam dirinya. Melihat lukisan puitis, terkadang mengusik hasrat penikmat untuk menjalani tetirah ke dunia lukisan yang kelihatan lebih tenang. Semacam eskapisme batin, dari belenggu rutinitas yang kerap menyebabkan khalayak penikmat kurang dapat secara optimal menikmati kehidupan. Bahkan, bukan tidak mungkin kemudian ada pemikiran, seandainya saja bisa berada di dalam suasana lukisan itu barang sejenak saja, meletakkan jeda ketergantungan pada telepon genggam dan jeda tanggung jawab pada pekerjaan.Puitis untuk Hal LainAdjektiva “puitis” juga dapat mengatributi nama orang. Biasanya masuk ke dalam kriteria jarang terdengar, mempunyai makna mendalam, dan terdengar seperti potongan lirik lagu atau baris puisi. Contoh nama Senja Kala Jingga (menggambarkan sore yang romantis), Rembulan Renjana (bulan dan perasaan hati yang dalam), Lembayung Sutra (warna langit sore yang lembut), Arunika Citra (cahaya matahari terbit).Pemilihan nama-nama ini bukan hanya sekadar penanda identitas diri, melainkan juga untuk menebarkan rasa atau harapan tertentu melalui keindahan bunyi kata. Misalnya untuk nama Arunika Citra. Pemberian nama ini berangkat dari perasaan bahagia atas kelahiran belahan jiwanya dan ada kandungan harap kelak bisa menjadi cahaya di tengah kegelapan.Guna menciptakan resonansi, memastikan perasaan orang tua sebagai pihak pemberi nama dapat sampai kepada penerima dengan getaran emosi senada, pilihan nama jatuh kepada Arunika, cahaya matahari yang terbit. Nama ini mempertautkan harapan pihak orang tua (perasaan) dengan bunyi kata yang terdengar estetis (keindahan bahasa). Adapun Citra, selain juga memiliki bunyi estetis, makna sebagai sosok yang memiliki kepribadian elok, kiranya relatif cocok bersandingkan dengan Arunika.Adjektiva “puitis” dapat mengiringi pelabelan untuk panorama atau suasana yang menumbuhkan rasa kagum terhadap keindahan yang tercipta, seperti “pemandangan pantai saat matahari terbenam dengan siluet perahu itu terasa sangat puitis” atau “suasana kota tua saat hujan gerimis terdengar puitis”.Suatu tindakan bisa pula mendapat atribut adjektiva “puitis” manakala berada dalam radius perspektif: mengutamakan estetika berbanding fungsi. Tindakan puitis kerap kali lebih mengaksentuasikan keanggunan, ritme gerakan, dan keindahan visual. Selain itu, tindakan puitis juga terekspresikan dengan simbolisme dan metafora.Tindakan puitis juga berdampak pada pihak yang melakukan dan menyaksikannya. Menimbulkan atmosfer suasana tertentu. Bisa rasa haru. Bisa romantis. Bisa pula reflektif. Tindakan puitis boleh terbilang sebagai wujud untuk menunjukkan kekaguman terhadap kehidupan (sense of awe).Seseorang yang menjalani hidupnya secara puitis, cenderung memandang dunia sebagai kanvas. Metafora dunia sebagai kanvas kosong yang menunggu untuk memperoleh pengisian, pembentukan, dan pewarnaan dengan tindakan yang tidak sepi dari kreativitas serta keputusan yang terasa baik untuk semua pihak.Tindakan puitis kerap datang dari apresiasi yang berkualitas terhadap keindahan kecil yang datang dari kejadian sederhana semata, seperti menaruh perhatian terhadap daun yang gugur, menikmati matahari terbit, atau berjalan santai untuk menghirup suasana yang menyebabkan hati atau perasaan nyaman.Di samping itu, seorang yang menjalani kehidupan secara puitis tidak begitu tunduk untuk melakukan tindakan rutin mekanis. Sebaliknya, seseorang itu akan berikhtiar untuk melakukan tindakan yang istimewa, unik, dan acapkali tidak terduga. Seseorang itu mampu menaklukkan kebosanan hidup keseharian dengan “seni” tindakan puitis.Adapun contoh tindakan puitis, yaitu mempersembahkan bunga kepada seseorang tanpa alasan khusus. Suatu tindakan atas dasar perasaan murni, keindahan, spontanitas. Bukan semata karena dorongan kewajiban atau kepentingan tertentu. Memberi dengan motif murni untuk membahagiakan seseorang, menghargai kehadiran mereka, atau berbagi kedekatan dalam suatu momen. Tindakan puitis ini telah mengubah hari biasa menjadi momen khusus. Bunga menjadi simbol betapa si penerima begitu berharga. Bunga adalah “puisi” nonverbal yang berbicara langsung kepada hati untuk ucapan terima kasih ataupun ungkapan sayang.Ilistrasi dari Gemini 3 AI.Contoh tindakan puitis lainnya, yaitu menulis surat dengan tulisan tangan pada era digital. Ketika segala sesuatu dapat terakses secara serbainstan, serbacepat, serbadigital, menulis surat dengan tangan merupakan suatu tindakan puitis. Sebab, melawan arus efisiensi dan lebih mengedepankan sentuhan jiwa, rasa, dan sedikit mengorbankan waktu.Dalam tindakan puitis membuat surat dengan tulisan tangan terdapat perlawanan terhadap efisiensi. Sebaliknya, justru terjadi pemihakan terhadap seni memperlamban gerakan (the art of slowing down). Pesan (chat) digital lebih memberi fokus pada kecepatan. Sementara itu, surat dengan tulisan tangan sudah tentu lebih memerlukan waktu dalam proses pengerjaannya.Ini adalah tindakan puitis. Sebab, seseorang tadi menyediakan waktunya yang berharga untuk menyusun kata demi kata dengan mengerahkan kemampuannya menulis tangan. Dan, ini tidak sesimpel menyentuhkan ibu jari di kibor layar telepon genggam. Menulis tangan pastilah membutuhkan waktu lebih lama. Belum lagi mencari amplop dan mengirimkannya via Kantor Pos atau jasa pengiriman. Hal ini menunjukkan bahwa si penerima surat layak menerima curahan waktu dari seseorang tadi, bukan hanya sekadar respons instan.Kemudian ada jejak fisik yang intim. Ia seolah menjadi jiwa yang mewujud (tangible soul). E-mail atau surat elektronik tidak menawarkan sensasi bau kertas dan tekstur tinta. Surat dengan tulisan tangan mengeksistensikan dirinya sebagai barang fisik yang memungkinkan adanya penyentuhan, penciuman, dan penyimpanan atasnya. Tulisan tangan baik yang bagus maupun kurang begitu bagus memberikan warna yang jujur sebagai cerminan suasana hati. Seolah ada emosi yang tertumpah di atas kertas. Sesuatu yang hilang dari pilihan font yang begitu banyak tersedia dalam standar digital.Pesan yang tertulis di obrolan WhatsApp bisa terhapus, tertimbun dalam waktu yang relatif cepat. Atau, bisa pula hilang manakala kita berganti handphone. Berlainan kiranya dengan surat tulisan tangan. Serupa kenangan yang dapat menempati sudut laci meja kerja hingga bertahun-tahun selama aman dari incaran rayap. Membaca kembali bisa menyeret ke nostalgia masa lampau. Screenshot percakapan dalam pesan-pesan pendek di WhatsApp tidak bisa menandingi sensasinya.Menulis surat dengan tulisan membutuhkan ketulusan tersendiri, sedikitnya kehati-hatian saat merangkai kata, agar tidak kebanyakan gonta-ganti kertas. Tidak ada tombol backspace atau auto-correct. Kalaupun terpaksa ada kesalahan tulis, justru memperlihatkan sisi manusiawi sang penulis surat dengan tulisan tangan itu.Lebih dari itu, menulis dengan tangan membutuhkan konsentrasi dan ketenangan. Ini merupakan tindakan puitis di tengah sergapan tiada henti distraksi notifikasi. Gangguan konsentrasi akibat bunyi getaran. Atau pop-up, jendela kecil, notifikasi, atau elemen grafis yang muncul tiba-tiba di atas konten utama layar komputer, smartphone, dan website. Semua itu menimbulkan fokus terpecah, produktivitas turun, serta mental yang letih.Manakala seseorang duduk di kursi, sementara di depannya ada meja kerja yang sudah tersaji sehelai kertas dan sebuah bolpoin di tangan. Dalam ungkapan yang hiperbolis ini bisa menerima sebutan sebagai meditasi. Akan tetapi, saya lebih suka menengarainya sebagai momen puitis manakala seseorang yang menulis surat dengan tangan (bukan dengan gawai) berdialog dengan dirinya sendiri sebelum menyampaikannya kepada pihak lain.Tindakan puitis lainnya, yaitu “berdua menikmati pemandangan senja tanpa kata-kata”. Menjiwai kehidupan dengan larut ke dalam momen kebersamaan yang berbalutkan keheningan dari komunikasi verbal, guna meraih pengalaman estetis dan emosional mendalam. Sementara itu senja pun menengadahkan wajahnya dari kejauhan. Menggugah kontemplasi dan mengatmosferkan melankoli. Momen ini menjadi puitis karena pada hakikatnya ia adalah puisi yang hidup dan terasakan.Tindakan puitis lainnya lagi, yaitu mengubah aktivitas menyapu halaman yang rutin dan berkesan biasa menjadi gerakan reflektif yang terkontrol kesadaran penuh (mindfulness). Manakala seseorang menghentikan anggapan bahwa kegiatan menyapu merupakan beban dan mulai dapat merasai setiap ritme dan harmoni sapuan. Mengakrabinya sebagai metafora pembersihan jiwa. Menuntaskan fokus pada kehadiran di masa kini. Dan, memberi jalan pemungkinan untuk keberlangsungan suatu dialog batin yang kontemplatif.Adjektiva “puitis” juga dapat melekat pada foto. Tentu saja tidak sekadar memotret fakta, tetapi dapat mengaduk emosi dan imajinasi khalayak penikmat. Seperti halnya puisi, hanya tanpa kata. Foto puitis menangkap suasana melankolis, nostalgia, kesunyian, atau keindahan yang bersanding ketenangan. Bukan pada subjek saja yang menjadi fokus jepretan, melainkan perasaan yang hadir ketika khalayak penikmat melihat foto puitis itu.Foto puitis memanfaatkan metafora visual berupa cahaya, bayangan, komposisi, dan warna untuk melambangkan sesuatu yang lebih bermakna. Tidak sempadan menghadirkan objek sebagaimana adanya. Di samping itu, lewat sodoran makna tersirat, akan tersedia ruang imajinasi bagi khalayak audiens. Foto puitis tidak menerangkan seluruhnya. Masih menyisakan ruang bagi khalayak penikmat guna menginterpretasikan, membayangkan, dan merasakan cerita yang berada di belakangnya.Foto puitis menangkap momen fana (fugitive) yang sekilas atau rincian kecil yang terlewatkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ubahnya seperti baris-baris puisi menangkap esensi dari suatu pengalaman hidup. Foto puitis kerap memainkan kesederhanaan untuk memperkokoh dampak visual.Foto puitis bercerita banyak mengenai suatu kisah, tetapi memberi kemerdekaan kepada khalayak penikmat untuk ikut merasakannya. Tanpa memanjakannya dengan kepsen panjang lebar. Dengan demikian, foto puitis adakah kompromi cerdas teknik fotografi dengan rasa. Dan, gambar menunaikan fungsi sebagai bahasa visual yang memesrai jiwa.Adjektiva “puitis” pun merambah dunia desain arsitektur. Pembangunan ruang ternyata tidak hanya untuk mengabdikan diri pada pemenuhan aspek fungsi, seperti tempat berteduh. Akan tetapi, juga untuk menciptakan hubungan emosional dengan manusia. Contoh, jendela yang pembangunannya pada posisi yang memungkinkan cahaya matahari dapat jatuh tepat mengenai meja baca pada jam tertentu saat pemiliknya biasa berkegiatan membaca buku. Ruang itu layak menerima atribut puitis, karena telah “bercerita” banyak lewat cahaya dan bayangan serta tidak sekadar beton dan semen.Jagat sinematografi tidak luput dari lirikan atribut puitis. Di dalam film, terdapat istilah poetic realism. Terdapat pengutamaan suasana emosional dan simbolisme visual daripada dialog yang gamblang. Contoh adegan daun-daun yang jatuh berguguran dengan iringan musik dengan irama sendu mendayu, tanpa perlu ada pemunculan dialog dua karakter, pemuda dan gadis, yang saling berucap “selamat tinggal”.Begitulah, puitis itu yang secara tidak terduga muncul dalam berbagai sektor kehidupan sehari-hari. Tentu saja yang berkaitan dengan bahasa, itulah habitat yang utama. Kalimat puitis dan ucapan puitis, di luar sumbernya sebagai puisi atau penggalan larik puisi menempati radius paling dekat dengan episentrum atribusi. Kemudian melebar ke suasana, tindakan, lukisan, nama orang pun ada yang berhak mendapat atribut puitis. Tidak ketinggalan dengan fotografi dan sinematografi yang juga mengakrabi nilai puitis. ***