Pelajaran dari kisah viral monyet Punch: hewan butuh ikatan emosional, tak cukup hanya diberi makan

Wait 5 sec.

David Mareuil/Anadolu via Getty ImagesBayi monyet makaka bernama Punch viral di media sosial karena ceritanya yang memilukan.Setelah ditinggalkan induknya dan ditolak oleh anggota kelompoknya, para penjaga di kebun binatang Ichikawa, Jepang, memberinya boneka orangutan sebagai pengganti sosok ibu. Video Punch yang selalu membawa boneka tersebut kemana pun ia pergi menyebar luas dan menyentuh hati warganet di berbagai belahan dunia.Namun, keterikatan Punch pada boneka tak bernyawa itu bukan sekadar video yang mengharukan. Ia mengingatkan kita pada serangkaian eksperimen psikologi terkenal yang dilakukan oleh peneliti Amerika Serikat, Harry Harlow, pada 1950-an.Temuan eksperimennya menjadi landasan penting bagi banyak prinsip utama teori keterikatan, yang menempatkan ikatan antara orang tua dan anak sebagai faktor krusial dalam perkembangan anak.Seperti apa eksperimen Harlow?Harlow mengambil bayi monyet rhesus sejak lahir dan memisahkan mereka dari induknya. Bayi-bayi monyet ini kemudian dibesarkan dalam kandang yang menyediakan dua sosok “ibu” pengganti.Salah satunya adalah kerangka kawat berbentuk tubuh induk monyet, yang dilengkapi alat untuk menyediakan makanan dan minuman melalui wadah kecil.Dan yang satunya lagi adalah boneka monyet yang dibungkus kain handuk lembut. Boneka ini empuk dan nyaman, tetapi tidak bisa menyediakan makanan maupun minuman. Fungsinya hanya sebagai sesuatu yang bisa dipeluk oleh bayi monyet. ‘Ibu’ kawat dan ‘ibu’ boneka dalam eksperimen Harlow. Harlow, H. F. (1958). The nature of love. American Psychologist, 13(12), 673–685. Jadi, tersedia dua pilihan: satu memberikan kenyamanan meski tidak memberi makanan dan minuman, dan satu lagi keras nan juga dingin, tetapi menyediakan asupan nutrisi.Eksperimen ini merupakan respons terhadap teori behaviorisme, yang pada masa itu menjadi pandangan teoretis dominan dalam psikologi.Kaum behavioris berpendapat bahwa bayi membentuk keterikatan dengan siapa pun yang mampu memenuhi kebutuhan biologis mereka, seperti makanan dan tempat berlindung.Harlow menantang teori ini. Ia berpendapat bahwa untuk membentuk keterikatan, bayi membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan kelembutan—bukan hanya pemenuhan kebutuhan fisik semata.Seorang behavioris memprediksi bahwa, dalam eksperimen itu, bayi monyet akan menghabiskan seluruh waktunya bersama “ibu” kawat yang memberi mereka makan.Faktanya, yang terjadi justru sebaliknya. Bayi monyet justru menghabiskan jauh lebih banyak waktunya memeluk “si ibu” boneka berbahan kain lembut setiap harinya. Eksperimen Harlow menegaskan pentingnya kelembutan, perhatian, dan kasih sayang sebagai dasar keterikatan. Ketika dihadapkan pada pilihan, bayi monyet lebih memilih “asupan emosional” ketimbang nutrisi fisik. Baca juga: Reptil kerap diabaikan dan diperlakukan semena-mena. Begini cara merawat mereka dengan lebih baik Bagaimana pengaruhnya terhadap teori keterikatan modern?Penemuan Harlow ini sangat berarti, karena sukses mengubah pandangan behaviorisme yang dominan saat itu. Pandangan tersebut menyatakan bahwa primata, termasuk manusia, hidup dalam siklus penghargaan dan hukuman, serta membentuk ikatan dengan siapa pun yang memenuhi kebutuhan fisik seperti lapar dan haus.Dalam kerangka behaviorisme, pemenuhan kebutuhan emosional tidak dianggap bagian penting. Eksperimen Harlow membalikkan teori tersebut.Preferensi monyet terhadap kebutuhan emosional, yang diwujudkan lewat pelukan pada boneka “pengganti ibu” itu, menjadi fondasi bagi berkembangnya teori keterikatan.Teori itu menyatakan bahwa perkembangan anak yang sehat terjadi ketika anak merasa aman dengan pengasuhnya. Hal ini terwujud ketika orang tua atau pengasuh memberikan perhatian, kepedulian, kelembutan, dan peka merespons kebutuhan anak. Sebaliknya, rasa tidak aman muncul ketika pengasuh bersikap dingin, berjarak, kasar, atau mengabaikannya.Bayi monyet rhesus serupa dengan bayi manusia. Kita mungkin bisa memberi mereka semua makanan dan nutrisi yang dibutuhkan. Namun, tanpa kehangatan dan cinta, mereka tidak akan membentuk ikatan emosional yang kuat dengan kita.Apa yang bisa kita pelajari dari Punch?Kebun binatang Ichikawa tentu tidak sedang melakukan eksperimen yang sama seperti Harlow puluhan tahun lalu. Namun, situasi Punch secara tidak sengaja mencerminkan desain eksperimen yang pernah dilakukan Harlow. Bedanya, kali ini lingkungannya lebih alami, tetapi hasilnya tampak serupa.Sama seperti monyet-monyet Harlow yang lebih memilih “ibu” boneka kain mereka, Punch pun membentuk ikatan emosional dengan boneka IKEA miliknya.Memang, dalam kasus ini tidak ada pembanding dengan sosok yang keras tetapi menyediakan asupan nutrisi. Namun, jelas bukan itu yang dicari Punch. Ia mencari tempat yang lembut, nyaman, dan aman—dan boneka itulah yang memberi semua hal yang ia butuhkan. Baca juga: Laba-laba ternyata ‘mencium bau’ dengan kakinya Apakah eksperimen Harlow etis?Kini, sebagian besar negara di dunia sudah mengakui bahwa primata juga memiliki hak-hak dasar, yang dalam beberapa hal, setara dengan hak asasi manusia.Jika dinilai dengan standar masa kini, eksperimen Harlow mungkin bakal dianggap kejam dan tidak berperikemanusiaan. Sebagaimana tidak etis memisahkan bayi manusia dari ibunya demi eksperimen—kita pun tidak akan melakukan hal yang sama pada primata.Namun, menarik melihat bagaimana banyak orang terpesona oleh kemiripan antara kisah Punch dan eksperimen yang dilakukan lebih dari 70 tahun lalu.Punch bukan sekadar hewan yang menjadi selebritas baru di internet—ia adalah pengingat akan pentingnya dukungan emosional.Kita semua, manusia, dan juga hewan, tidak cukup hanya diberi makan, minum, dan kebutuhan fisik saja. Lebih dari itu, kita butuh ruang aman, kehangatan, dan kasih sayang untuk bisa tumbuh dan berfungsi dengan baik.Mark Nielsen menerima dana dari Australian Research Council.