Serangan Balasan Afghanistan ke Pakistan: Warisan Durand Line, dan Ancaman TTP

Wait 5 sec.

Seorang tentara berjaga di pos di Gerbang Persahabatan, setelah terjadi baku tembak antara pasukan Pakistan dan Afghanistan, di perbatasan antara kedua negara di Chaman, Pakistan, Jumat (27/2/2026). Foto: Abdul Khaliq Achakzai/REUTERSKetegangan antara Afghanistan di bawah rezim Taliban dan Pakistan kembali meningkat tajam setelah Kabul melancarkan serangan balasan lintas batas pada Februari 2026. Seperti yang telah dimuat di Kumparan, aksi ini merupakan respons langsung terhadap operasi udara Pakistan yang diklaim menargetkan militan Tehreek-e-Taliban Pakistan (TTP) di wilayah Afghanistan. Perkembangan terbaru ini menandai fase paling berbahaya dalam hubungan kedua negara sejak Taliban kembali berkuasa di Afghanistan pada 2021—dan memunculkan kekhawatiran baru tentang stabilitas Asia Selatan. Menurut laporan media internasional, seperti Al Jazeera, pasukan Taliban menyerang posisi militer Pakistan di sepanjang perbatasan, termasuk di wilayah dekat Garis Durand. Taliban mengeklaim operasi tersebut sebagai balasan atas serangan udara Pakistan di provinsi Nangarhar yang disebut menewaskan warga sipil, sementara Islamabad bersikeras bahwa targetnya adalah militan TTP yang beroperasi dari wilayah Afghanistan. Eskalasi ini menunjukkan siklus aksi-reaksi yang semakin sulit dikendalikan.Akar Ketegangan: Kebangkitan TTP & Warisan Durand LineKondisi alam dan pemukiman di daerah perbatasan Badakhshan, Afghanistan. Foto: Joel Heard/UnsplashSalah satu pemicu utama memburuknya hubungan Kabul–Islamabad adalah kebangkitan TTP dalam beberapa tahun terakhir. Kelompok ini, yang dibentuk pada 2007 sebagai payung berbagai faksi Taliban Pakistan, bertujuan menggulingkan pemerintah Pakistan dan menerapkan interpretasi ketat hukum Islam. Sejak Taliban Afghanistan kembali berkuasa, Pakistan berulang kali menuduh Kabul memberi ruang aman bagi TTP—tuduhan yang secara konsisten dibantah pemerintah Taliban. Islamabad menilai lonjakan serangan di wilayahnya berkaitan langsung dengan aktivitas lintas batas kelompok tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, ratusan serangan dikaitkan dengan TTP, menewaskan ribuan orang di Pakistan (Al Jazeera). Bagi Taliban Afghanistan, tekanan Pakistan dipandang sebagai upaya menyalahkan Kabul atas masalah keamanan domestik Islamabad. Perbedaan persepsi inilah yang membuat koordinasi kontra-terorisme antara kedua negara hampir tidak berjalan.Selain faktor militan, akar struktural konflik juga terletak pada sengketa perbatasan Durand Line—garis sepanjang sekitar 2.400 kilometer yang ditarik Inggris pada 1893 untuk memisahkan Afghanistan dan India Britania. The Washington Post memuat bahwa Pakistan menganggap Durand Line sebagai perbatasan internasional yang sah. Sebaliknya, pemerintah Afghanistan—termasuk rezim Taliban saat ini—secara historis menolak legitimasi garis tersebut. Sengketa ini diperparah karena garis itu membelah wilayah etnis Pashtun, menciptakan ketegangan identitas dan keamanan yang berkepanjangan. Dalam beberapa tahun terakhir, pembangunan pagar perbatasan oleh Pakistan dan pengetatan kontrol lintas batas memicu bentrokan sporadis. Setiap insiden militer dengan cepat memperoleh dimensi politik dan nasionalisme, membuat de-eskalasi semakin sulit.Eskalasi Konflik Perbatasan 2025–2026Milisi taliban di Kunar, Afghanistan. Foto: Hamayoon Pacha/UnsplashThe Guardian mencatat bahwa hubungan kedua negara sebenarnya sudah memburuk sejak 2024–2025. Bentrokan besar di perbatasan pada 2025 menewaskan puluhan personel militer di kedua pihak, sementara Pakistan melaporkan lebih dari 600 serangan militan dalam setahun terakhir yang dikaitkan dengan kelompok berbasis di Afghanistan. Serangan udara Pakistan pada Februari 2026 menjadi titik balik terbaru. Taliban menyebut operasi itu pelanggaran kedaulatan, lalu merespons dengan serangan darat terhadap pos Pakistan dalam beberapa hari terakhir. Islamabad diproyeksikan akan memperkuat operasi militernya guna mempertahankan integritas teritorialnya.Terlihat bahwa kedua pihak saling menekan tetapi berusaha menghindari perang terbuka. Secara militer, baik Pakistan maupun Taliban Afghanistan tampaknya belum menginginkan perang konvensional penuh. Pakistan masih fokus pada stabilitas domestik dan ancaman internal, sementara Taliban menghadapi tekanan ekonomi dan diplomatik internasional.Meski demikian, beberapa faktor dapat mendorong eskalasi lebih jauh, seperti misalnya jika serangan TTP di Pakistan terus meningkat, tekanan domestik terhadap militer Pakistan untuk bertindak lebih keras akan semakin besar. Selain itu, insiden korban sipil lintas batas berpotensi memicu reaksi emosional dan nasionalistik di kedua negara. Terlebih, absennya mekanisme kepercayaan bilateral membuat setiap krisis cepat memburuk. Pengalaman kawasan menunjukkan bahwa konflik perbatasan yang awalnya terbatas dapat berkembang cepat jika dipicu oleh kesalahan pemilihan kebijakan.Dampak bagi Stabilitas Asia SelatanEskalasi Afghanistan–Pakistan memiliki implikasi regional yang signifikan. Pakistan adalah negara bersenjata nuklir dan pemain kunci dalam stabilitas Asia Selatan, sementara Afghanistan tetap menjadi titik rawan keamanan regional. Ketegangan berkepanjangan berpotensim memperkuat jaringan militan lintas batas, mengganggu perdagangan regional dan konektivitas, serta memperburuk krisis kemanusiaan di Afghanistan. Selain itu, rivalitas ini juga dapat mempengaruhi dinamika kekuatan besar, termasuk kepentingan Tiongkok, Amerika Serikat, dan negara Teluk di kawasan.Dalam jangka pendek, konflik kemungkinan tetap berada pada level bentrokan terbatas dan serangan balasan terukur. Namun dalam jangka menengah, risiko eskalasi tetap nyata selama tiga masalah inti belum terselesaikan: keberadaan TTP, sengketa Durand Line, dan krisis kepercayaan politik antara Kabul dan Islamabad.Sejarah hubungan kedua negara menunjukkan bahwa stabilitas sering bersifat sementara. Tanpa mekanisme keamanan bersama dan dialog politik yang kredibel, setiap insiden perbatasan berpotensi menjadi pemicu krisis baru. Dengan kata lain, serangan balasan terbaru dari Afghanistan bukan sekadar episode militer biasa—melainkan sinyal bahwa garis patahan geopolitik di perbatasan Afghanistan–Pakistan masih sangat labil, dan Asia Selatan harus bersiap menghadapi periode volatilitas yang berkepanjangan selain potensi-potensi konflik yang telah ada sebelumnya.