Ledakan informasi di zaman digital. Foto: PexelsSetiap pagi kita bangun dalam banjir informasi. Layar ponsel menyala sebelum mata sepenuhnya terbuka. Notifikasi berdering, pesan masuk, berita berkeliaran. Dalam hitungan menit, kita sudah menerima lebih banyak informasi dibanding generasi sebelumnya dalam hitungan hari. Namun di tengah kelimpahan itu, ada sesuatu yang justru semakin langka: literasi yang sejati.Kita sering menyamakan literasi dengan kemampuan membaca dan menulis. Padahal, literasi lebih dari sekadar mengenal huruf dan menyusun kalimat. Literasi adalah kemampuan memahami, menafsirkan, mengevaluasi, dan merefleksikan informasi secara kritis. Ia bukan sekadar akses terhadap teks, melainkan juga kedalaman dalam mengolah makna.Ledakan informasi adalah ciri zaman digital. Data diproduksi dalam jumlah yang sulit dibayangkan. Media sosial, portal berita, kanal video, podcast, semuanya berlomba menghadirkan konten terbaru. Informasi tidak lagi menunggu untuk dicari, tetapi datang menyerbu. Kita tidak lagi berburu kabar, tetapi diburu kabar.Ironisnya, ketika akses semakin luas, kualitas pemahaman tidak selalu meningkat. Banyak orang membaca judul tanpa menelusuri isi. Potongan video dipahami tanpa konteks. Kutipan dipakai tanpa mengetahui latar belakangnya. Kita menjadi akrab dengan fragmen, tetapi asing dengan keseluruhan.Ilustrasi membaca di internet. Foto: GaudiLab/Shutterstock Kebiasaan membaca di internet dapat mengubah pola pikir kita menjadi lebih dangkal dan terburu buru. Otak dibiasakan melompat dari satu tautan ke tautan lain, dari satu topik ke topik lain, tanpa sempat merenung. Kita terlatih untuk memindai, bukan mendalami.Dalam ruang digital, kecepatan menjadi nilai utama. Siapa yang paling cepat mengunggah, ia yang paling banyak dilihat. Akibatnya, verifikasi sering dikorbankan. Informasi yang belum teruji menyebar luas sebelum sempat diperiksa. Di sinilah literasi diuji; bukan pada kemampuan menerima informasi, melainkan pada keberanian menyaringnya. Literasi tidak hanya memahami teks, tetapi juga memahami realitas yang melingkupinya. Tanpa kesadaran kritis, informasi mudah berubah menjadi alat manipulasi.Fenomena misinformasi dan disinformasi adalah gejala nyata krisis literasi. Berita palsu menyebar cepat karena sesuai dengan prasangka atau emosi pembacanya. Algoritma media sosial memperkuat bias, menampilkan konten yang sejalan dengan preferensi pengguna. Kita hidup dalam gelembung informasi yang terasa nyaman, tetapi membatasi cakrawala.Krisis literasi bukan hanya berdampak pada individu, melainkan juga pada kualitas demokrasi. Percakapan publik menjadi dangkal dan emosional. Argumen digantikan oleh serangan personal. Kompleksitas masalah diringkas menjadi slogan sederhana. Padahal, persoalan sosial dan politik menuntut pemahaman yang berlapis.Ilustrasi UNESCO. Foto: Bumble Dee/ShutterstockUNESCO dalam berbagai laporan literasinya menekankan bahwa literasi abad ke dua puluh satu mencakup kemampuan berpikir kritis, literasi media, dan literasi digital. Artinya, membaca teks saja tidak cukup. Kita perlu memahami bagaimana informasi diproduksi, siapa yang diuntungkan, dan apa dampaknya.Di lingkungan pendidikan, tantangan ini semakin terasa. Siswa memiliki akses luas ke sumber informasi, tetapi belum tentu memiliki keterampilan untuk mengevaluasinya. Tugas sering diselesaikan dengan menyalin dari internet tanpa proses analisis. Kemudahan akses tidak otomatis menghasilkan kedalaman pemahaman.Budaya instan turut memperparah keadaan. Ringkasan lebih diminati daripada buku utuh. Video pendek lebih populer daripada diskusi panjang. Kita terbiasa dengan konten yang padat dan cepat, tetapi jarang memberi ruang bagi pemikiran yang perlahan dan reflektif. Padahal, kedalaman lahir dari ketekunan.Literasi yang hilang bukan berarti kemampuan membaca lenyap. Ia hilang dalam arti tergerus oleh kebiasaan dangkal. Kita membaca banyak, tetapi memahami sedikit. Kita mengetahui banyak, tetapi mengerti sedikit. Pengetahuan berubah menjadi tumpukan fakta yang tidak terhubung.Budaya instan di lingkungan pendidikan. Foto: PexelsPadahal, literasi sejati menuntut keterhubungan. Ia mengajak kita melihat relasi antara data dan konteks, antara peristiwa dan struktur, antara opini dan bukti. Literasi mengajarkan kerendahan hati intelektual, kesediaan untuk mengatakan belum tahu sebelum memastikan.Untuk memulihkan literasi, kita perlu membangun kebiasaan baru. Pertama, melambat dalam membaca. Tidak semua informasi perlu dikonsumsi sekaligus. Membaca satu artikel secara mendalam lebih berharga daripada membaca sepuluh judul secara terburu-buru.Kedua, membiasakan verifikasi. Memeriksa sumber, membandingkan informasi, dan mencari konteks adalah bagian dari tanggung jawab literasi. Ini mungkin tidak populer di tengah budaya cepat, tetapi penting untuk menjaga kualitas nalar.Ketiga, menghidupkan kembali ruang dialog. Diskusi yang sehat—baik di kelas, di keluarga, maupun di ruang publik—membantu memperkaya perspektif. Literasi tumbuh dalam perjumpaan gagasan, bukan dalam kesendirian algoritma.Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar saat bulan Ramadhan di SDN Slipi 15, Jakarta, Kamis (6/3/2025). Foto: Sulthony Hasanuddin/ANTARA FOTO Keempat, pendidikan harus memberi ruang lebih besar pada literasi kritis. Tidak hanya mengajarkan cara mencari informasi, tetapi juga cara menilai dan mengolahnya. Guru dan dosen memiliki peran penting sebagai fasilitator refleksi, bukan sekadar penyampai materi.Akhirnya, literasi bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan juga sikap hidup. Ia adalah kesediaan untuk terus belajar, mempertanyakan, dan merefleksikan. Di tengah ledakan informasi, literasi adalah jangkar agar kita tidak hanyut oleh arus.Zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi kebutuhan akan kedalaman tidak pernah usang. Jika kita ingin menjaga kualitas percakapan publik, kualitas keputusan, dan kualitas kehidupan bersama, literasi harus dipulihkan.Sebab di tengah dunia yang bising oleh informasi, yang paling kita butuhkan bukan lebih banyak data, melainkan lebih banyak kebijaksanaan dalam memaknainya.