Di Jakarta, Minggu, JK menilai langkah tersebut bukan perkara mudah, terutama dalam konteks hubungan bilateral Indonesia–AS yang dinilainya belum setara.“Sayangnya, Indonesia telah mengadakan perjanjian yang tidak seimbang, dan sangat merugikan Indonesia. Itu saja kita tidak setara Amerika. Bagaimana mendamaikan orang yang tidak setara dalam keadaan ini?” ujar JK.Mediasi Dinilai BeratJK memandang niat tersebut sebagai langkah positif secara diplomatik, namun secara realistis menghadapi tantangan besar.“Rencana itu baik saja, tetapi ini situasi yang jauh lebih-lebih besar masalahnya,” katanya.Ia juga menyinggung kompleksitas konflik di kawasan Timur Tengah yang selama ini sulit diselesaikan.“Ya, Israel dengan Palestina saja tidak bisa, sulit didamaikan, karena dunia ini sangat ditentukan oleh sikap Amerika,” lanjutnya.Pernyataan itu menggarisbawahi pandangan bahwa dinamika geopolitik global—khususnya pengaruh Washington—menjadi faktor dominan dalam setiap upaya resolusi konflik di kawasan tersebut.Eskalasi KonflikIsrael melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Dalam perkembangan berikutnya, Presiden AS Donald Trump menyatakan militer AS memulai operasi tempur besar-besaran di Iran.Salah satu serangan dilaporkan berupa tujuh roket yang menghantam ibu kota Teheran dan area di sekitar kediaman Ayatollah Ali Khamenei.Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan roket terhadap Israel serta sejumlah target lain di Qatar, Uni Emirat Arab, dan Bahrain.Pada 1 Maret 2026, pemerintah Iran mengonfirmasi wafatnya Ali Khamenei, menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari serta libur kerja selama sepekan.Sikap Pemerintah IndonesiaDi tengah eskalasi tersebut, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia menyatakan Presiden Prabowo siap bertolak ke Iran guna memfasilitasi dialog demi memulihkan kondisi keamanan yang kondusif.Secara diplomatik, langkah mediasi Indonesia dapat dipandang sebagai upaya menjaga peran aktif dalam politik luar negeri bebas aktif. Namun, sebagaimana disoroti JK, efektivitasnya sangat bergantung pada posisi tawar, kredibilitas di mata para pihak, serta konfigurasi kekuatan global yang sedang memanas.Dalam situasi seperti ini, niat baik adalah prasyarat—tetapi bukan jaminan keberhasilan. Diplomasi bekerja bukan hanya pada idealisme, melainkan juga pada keseimbangan kekuatan.[]