Ilustrasi bayi baru lahir. Foto: Vad-Len/ShutterstockMelahirkan bayi prematur selalu penuh perjuangan. Namun tak pernah ada perjuangan yang sia-sia selama kita masih punya harapan, Moms.Sofia adalah salah satunya. Lahir di usia 24 minggu pada 2016, ia datang ke dunia dengan kondisi yang penuh risiko. Kehilangan saudara kembar identiknya, Sienna, serta harus bertahan dari sepsis E.coli dan didiagnosis cerebral palsy. Namun hal ini tidak membuat harapan keluarganya padam. Justru dari sanalah perjalanan penuh keteguhan itu dimulai.Perjalanan Panjang Sejak DiniIlustrasi bayi prematur. Foto: Shutter StockDi awal kehidupannya, dokter sempat menyampaikan kemungkinan terburuk. Namun hari demi hari, Sofia menunjukkan daya juang luar biasa. Meski mengalami keterlambatan motorik, setiap perkembangan sekecil apa pun menjadi kabar baik yang perlu dirayakan.Perkembangan Sofia tidak mudah. Pada usia 17 bulan, ia belum bisa duduk sendiri. Kakinya lemah, otot intinya belum kuat, dan ketika berdiri ia masih jinjit.Namun, di usia dua tahun, alat bantu jalan memberinya sedikit kemandirian. Langkahnya perlahan, tetapi penuh tekad. Hingga pada usia 3,5 tahun, Sofia akhirnya mampu berjalan tanpa alat bantu. Itu bukan sekadar pencapaian fisik, melainkan kemenangan atas rasa takut dan keraguan.Tahun 2025 menjadi momen yang tak terlupakan. Sofia berhasil menyelesaikan lari 100 meter pertamanya!Ibunya, Clare, memegang teguh janjinya sejak awal ia hadir.“Saya berjanji pada Sofia bahwa saya akan melakukan segala hal untuk memberinya kesempatan terbaik dalam hidupnya,” ujarnya dikutip dari People.Clare juga menegaskan, bahwa orang-orang seperti Sofia perlu dukungan dan perlakuan yang sama seperti teman sebayanya.“Sofia mungkin tidak berlari secepat orang lain atau menganggap olahraga mudah, tetapi dia ingin diikutsertakan, ingin merasa seperti anak-anak lainnya,” tambahnya.Dan dari sanalah kita belajar, bahwa setiap anak berhak atas kesempatan dan cinta orang tua bisa menjadi bahan bakar terbesar untuk sebuah keajaiban, Moms.